Tampilkan postingan dengan label konsep. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label konsep. Tampilkan semua postingan

Jumat, 08 April 2016

Perencanaan Tangga Darurat pada bangunan

1
Tangga darurat merupakan tangga pada bangunan yang baru akan digunakan pada saat-saat tertentu saja, utamanya ketika terjadi bencana di dalam bangunan, seperti kebakaran. Tangga darurat lebih mementingkan fungsi dari pada estetisnya. Umum- nya letak tangga darurat pada ruangan khusus dan tidak akan digunakan jika kondisi bangunan normal. Desain tangga darurat lebih difokuskan pada penem- patan yang paling mudah dijangkau serta terbebas dari api apabila terjadi bencana di dalam bangunan dan harus memiliki penghawaan yang maksimal. Pintu darurat dan tangga darurat harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga mudah dicapai dan dapat mengeluarkan seluruh penghuni dalam waktu 2,5 menit. Pintu darurat harus mempunyai tanda atau sinyal penerangan yang bertuliskan KELUAR di atasnya dan menghadap ke koridor (Departemen Pekerjaan Umum, 1987: 11-14).
Menurut Badan Standardisasi Nasional (2000 : 33-34) ada beberapa persyaratan khusus untuk tangga luar yang harus dipenuhi, sebagai berikut:
  1. Akses, tangga luar harus diijinkan menuju ke atap dari bagian lain bangunan atau bangunan yang bersebelahan, apabila konstruksinya tahan api, disana ada sarana jalan keluar yang aman dan menerus dari atap, dan semua persyaratan yang wajar lainnya untuk keselamatan jiwa dijaga.
  2. Balkon yang menuju pintu jalan keluar harus mendekati permukaan lantai bangunan.
  3. Proteksi visual, tangga luar harus disusun untuk menghindari kesulitan penggunaan tangga oleh orang yang takut terhadap tempat tinggi.
  4. Pemisahan dan proteksi dari tangga luar, tangga luar harus dipisahkan dari bagian dalam bangunan oleh dinding dengan tingkat ketahanan api yangdipersyaratkan untuk ruang tangga tertutup dengan bukaan tetap atau dapat menutup sendiri dan terproteksi.
  5. Proteksi terhadap bukaan, semua bukaan dibawah tangga luar harus diproteksi dengan suatu rakitan yang mempunyai tingkat ketahanan api 45/45/45.
  6. Genangan air, tangga dan bordes luar harus dirancang untuk meminimalkan genangan airpada permukaannya.
  7. Keterbukaan, tangga luar harus sedikitnya 50% terbuka pada satu sisi dan harus disusun untuk membatasi mengumpulnya asap.
Tangga panjat penyelamat kebakaran hanya diijinkan apabila memiliki persyaratan, sebagai berikut:
  1. Akses menuju tempat di atap yang tidak dihuni
  2. Sebuah sarana jalan keluar kedua dari lift gudang seperti yang diijinkan untuk bangunan hunian gudang
  3. Sebuah sarana jalan keluar dari menara dan platform yang ditinggikan untuk perlengkapan
  4. mesin atau tempat yang serupa, untuk hunian tidak lebih dari tiga orang yang mampu meng- gunakan tangga panjat
  5. Sebuah sarana jalan keluar kedua dari ruangan ketel uap atau tempat yang serupa untuk hunian tidak lebih dari tiga orang yang mampu meng- gunakan tangga panjat
  6. Akses ke tanah dari balkon atau tangga terendah dari tangga penyelamatan kebakaran untuk bangunan yang kecil diijinkan (Badan Stan- dardisasi Nasional, 2000: 49-50).

Kamis, 07 April 2016

Proses Pelaksanaan Pembangunan Gedung

1
Ada beberapa tahapan-tahapan dalam pelaksanaan perencanaan suatu gedung. Tahapan pelaksanaan proyek ini harus disusun sedemikian rupa mulai dari pengerjaan awal hingga finishing (jika pengerjaan proyek hingga finishing). Semuanya ini disusun didalam Time Schedule. Tahapan-tahapan dan berapa lama pengerjaan proyek tersebut disusun dahulu sebelum pelaksanaan, sehingga proyek tersebut dapat berjalan sesuai rencana dan tepat waktu.
1. Pekerjaan PembersihanPengerjaan dimulai dari pembersihan lapangan dan pemerataan permuakaan tanah seperti yang telah direncanakan. Bahkan kalau perlu dilakukan pengerukan dan pengurugan tanah, setelah itu tanah dipadatkan.
2. Pekerjaan Pondasi
Setelah tanah bersih dan rata, dilanjutkan kemudian dengan pemancangan tiang pondasi, yang biasa disebut dengan Tiang Pancang. Sebelum pemancangan ini, perlu ditentukan dahulu titik-titik pondasi tersebut. Setelah titik-titik pondasi ditentukan, barulah proses pemancangan dapat dilakukan. Proses pemancangan ini harus sangat diperhatikan, karena saat proses pemancangan, dapat terjadi berbagai kesalahan. Operator mesin pancang diharapkan terus mengontrol posisi tiang pancang. Dalamnya pondasi tiang pancang yang tertanam di dalam tanah tergantung dari jenis dan kondisi tanah tersebut, karena pondasi tiang pancang harus berdiri di atas tanah yang keras. Jika proyek berada di daerah tanah rawa, pondasi tiang pancang tertanam lebih dalam. Sebagai contoh jika proyek berada di daerah Jakarta Utara, yang merupakan tanah rawa, pondasi tiang pancang akan tertanam sangat dalam. Lain halnya jika berada di sekitar Jakarta Selatan, yang mempunyai tanah lebih keras, pondasi tiang pancang tertanam tidak terlalu dalam.
Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan Pile Cap dan Sloof. Pile Cap ini berfungsi untuk membagi rata beban dari kolom kepada beberapa pondasi dibawahnya. Dan tiap Pile Cap ini juga dihubungkan satu sama lain oleh Sloof, sehingga semua tiang pancang mempunyai satu ikatan struktur.
3. Pekerjaan Struktur AtasSetelah pekerjaan struktur bawah, yaitu pemancangan selesai, dilanjutkan kembali dengan pengerjaan bagian struktur atas. Struktur atas terdiri dari kolom, balok dan pelat. Pengerjaan struktur atas dimulai dari pengerjaan kolom. Tapi terlebih dahulu, titik-titik kolom harus ditentukan posisinya dan dengan bantuan alat, sehingga titik-titik kolom tersebut sejajar satu sama lain.
Dalam proses pengerjaan kolom, hal yang pertama dilakukan adalah pengerjaan tulangan-tulangan kolom seperti yang telah didisain. Sebelum pengecoran kolom, terlebih dahulu dibuat bekisting yang dibentuk seperti kolom sehingga beton dapat dicor di dalamnya. Bekisting harus dibuat kokoh dan kuat, sehingga hasil cor-an diperoleh dengan baik dan bentuk kolom sesuai perencanaan. Ketika proses pengecoran harus dilakukan teliti, dan cor-an beton yang masuk itupun harus dirojok, sehingga cor beton dapat masuk semuanya sampai kebawah dan penuh mengisi bekisting.
Pengerjaan berikutnya adalah bagian balok dan pelat. Balok dan pelat memang dikerjakan bersamaan, Sama seperti pengerjaan kolom, pertama kali juga dilakukan pengerjaan bekisting. Agar waktu yang dibutuhkan seminimal mungkin, pengerjaan bekisting dan penganyaman tulangan dapat dilakukan secara bersamaan. Setelah pembuatan bekisting dan penulangan selesai, baru dilanjutkan dengan pengecoran beton. Hal yang terpenting adalah semua beton yang di-cor itu harus berada dalam satu ikatan, yang berarti proses pengecoran pelat dan balok harus serempak selesainya dan beton pun akan kering bersamaan, sehingga kekuatannya pun dalam satu ikatan. Begitu juga pengerjaan lantai berikutnya, prosesnya pun sama dengan sebelumnya. Dan selama proses pengecorannya pun juga harus dirojok, sehingga cor beton penuh mengisi bekisting.
4. Pekerjaan FinishingJika struktur telah berdiri kokoh, baru dapat dilanjutkan dengan pengerjaan finishing, yaitu pengerjaan dinding, elektrikal dan sanitasi, pemasangan keramik, pengecatan dan sebagainya. Namun, pengerjaan finishing inilah yang membutuhkan waktu paling lama, karena pengerjaannya harus hati-hati sehingga didapat bentuk yang rapi dan sesuai perencanaan.







TAHAPAN-TAHAPAN DALAM PROYEK PEMBANGUNAN

 1
1. Tahap Perencanaan (Planning)
Semua proyek konsruksi biasanya dimulai dari gagasan atau rencana dan dibangun berdasarkan kebutuhan (need). Pihak yang terlibat adalah pemilik.

2. Tahap Studi Kelayakan (Feasibility Study)
Pada tahap ini adalah untuk meyakinkan pemilik proyek bahwa proyek konstruksi yang diusulkan layak untuk dilaksanakan.
Kegiatan yang dilaksanakan :
• Menyusun rancangan proyek secara kasar dan membuat estimasi biaya
• Meramalkan manfaat yang akan diperoleh
• Menyusun analisis kelayakan proyek
• Menganalisis dampak lingkungan yang akan terjadi
Pihak yang terlibat adalah konsultan studi kelayakan atau konsultan manajemen konstruksi (MK)

3. Tahap Penjelasan (Briefing)
Pada tahap ini pemilik proyek menjelaskan fungsi proyek dan biaya yang diijinkan sehingga konsultan perencana dapat dengan tepat menafsirkan keinginan pemilik.
Kegiatan yang dilaksanakan :
• Menyusun rencana kerja dan menunjuk para perencana dan tenaga ahli
• Mempertimbangkan kebutuhan pemakai, keadaan lokasi dan lapangan, merencanakan rancangan, taksiran biaya, persyaratan mutu.
• Menyiapkan ruang lingkup kerja, jadwal, serta rencana pelaksanaan
• Membuat sketsa dengan skala tertentu sehingga dapat menggambarkan denah dan batas-batas proyek.
Pihak yang terlibat adalah pemilik dan Konsultan Perencana.

4. Tahap Perancangan (Design)
Pada tahap ini adalah melakukan perancangan (design) yang lebih mendetail sesuai dengan keinginan dari pemilik. Seperti membuat Gambar rencana, spesifikasi, rencana anggaran biaya (RAB), metoda pelaksanaan, dan sebagainya.
Kegiatan yang dilaksanakan :
• Mengembangkan ikthisiar proyek menjadi penyelesaian akhir
• Memeriksa masalah teknis.
• Meminta persetujuan akhir dari pemilik proyek
Mempersiapkan :
 Rancangan terinci
 Gambar kerja, spesifikasi dan jadwal
 Daftar kuantitas
 Taksiran biaya akhir
Pihak yang terlibat adalah konsultan perencana, konsultan MK, konsultan rekayasa nilai dan atau konsultan quantitiy surveyor.

5. Tahap Pengadaan/Pelelangan (Procurement/Tender)
Pada tahap ini bertujuan untuk mendapatkan kontraktor yang akan mengerjakan proyek konstruksi tersebut, atau bahkan mencari sub kontraktornya
Kegiatan yang dilaksanakan :
• Prakulaifikasi
• Dokumen Kontrak
Pihak yang terlibat adalah pemilik, pelaksana jasa konstruksi (kontraktor), konsultan MK.

6. Tahap Pelaksanaan (Construction)
Tujuan pada tahap ini adalah mewujudkan bangunan yang dibutuhkan oleh pemilik proyek yang sudah dirancang oleh konsultan perencana dalam batasan biaya, waktu yang sudah disepakati, serta dengan mutu yang telah disyaratkan.
Kegiatan yang dilaksanakan adalah merencanakan, mengkoordinasikan, mengendalikan semua oprasional di lapangan :
• Kegiatan perencanaan dan pengendalian adalah:
 Perencanaan dan pengendalian
 Jadwal waktu pelaksanaan
 Organisasi lapangan
 Tenaga kerja
 Peralatan dan material
• Kegiatan Koordinasi
 Mengkoordinasikan seruh kegiatan pembangunan
 Mengkoordinasi para sub kontraktor
Pihak yang terlibat adalah Konsultan Pengawas dan atau Konsultan MK, kontraktor, Sub Kontraktor, suplier dan instansi terkait.

7. Tahap Pemeliharaan dan Persiapan Penggunaan (Maintenance & Start Up)
Tujuan pada tahap ini adalah untuk menjamin agar bangunan yang telah sesuai dengan dokumen kontrak dan semua fasilitas bekerja sebagaimana mestinya.
Kegiatan yang dilakukan adalah :
• Mempersiapkan data-data pelaksanaan, baik berupa data-data selama pelaksanaan maupun gambar pelaksanaan (as build drawing)
• Meneliti bangunan secara cermat dan memperbaiki kerusakan- kerusakan
• Mempersiapkan petunjuk oprasional/pelaksanaan serta pedoman pemeliharaan.
• Melatih staff untuk melaksanakan pemeliharaan
Pihak yang terlibat adalah Konsultan Pengawas/ MK, pemakai, pemilik

Minggu, 03 April 2016

UTILITAS BANGUNAN TINGGI

1

Dalam pembangunan gedung tinggi tentunya dibutuhkan teknologi yang tinggi juga untuk mendukung menciptakan kenyamanan bagi pengguna, salah satunya adalah masalah utilitas bangunan. Utilitas Bangunan adalah suatu kelengkapan fasilitas yang digunakan untuk menunjang tercapainya unsur-unsur kenyamanan, kesehatan, keselamatan, kemudahan komunikasi, dan mobilitas dalam pembangunan

Perancangan bangunan harus selalu memperhatikan dan menyertakan fasilitas utilitas yang dikoordinasikan dengan perancangan lain (struktur, arsitektur, interior dan lain-lain). Berikut perencanaan utilitas bangunan yang harus dipenuhi pada sebuah pembangunan konstruksi:

1. Perancangan Plambing dan Sanitasi

Sedangkan sistem plambing adalah sistem penyediaan air bersih dan sistem pembuangan air kotor yang saling berkaitan serta merupakan paduan yang memenuhi syarat, yang berupa peraturan dan perundangan, pedoman pelaksanaan, standar tentang peralatan dan instalasinya .

Sistem plambing yang baik bergantung pada sistem plambing pemipaan yang baik pula. Selain pemipaan, terdapat hubungan yang erat juga antara masalah penyediaan air dan sanitasi, dimana sanitasi berhubungan langsung dengan beberapa aspek berikut:

  1. 1. Kesehatan.
  2. 2. Penggunaan air.
  3. 3. Pengolahan dan pembuangan limbah.

2. Perancangan Pencegahan Kebakaran

Untuk menghindari terjadinya kebakaran pada suatu bangunan, diperlukan suata cara atau sistem pencegahan kebakaran karena bahaya kebakaran dapat menimbulkan kerugian berupa korban manusia, harta benda, terganggunya proses produksi barang dan jasa, kerusakan lingkungan dan terganggunya masyarakat. Bahaya kebakaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu:

  1. 1. Bahaya kebakaran ringan

Merupakan bahaya terbakar pada tempat dimana terdapat bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar rendah dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas rendah dan menjalarnya api lambat.

  1. 2. Bahaya kebakaran sedang.
  2. 3. Bahaya kebakaran berat.

Merupakan bahaya terbakar pada tempat dimana terdapat bahan-bahan yang mempunyai nilai kemudahan terbakar tinggi dan apabila terjadi kebakaran melepaskan panas sangat tinggi dan menjalarnya api sangat cepat.

Perancangan sistem ini erat kaitannya dengan sistem plumbing karena agar meminimalisir bahaya bencana kebakaran maka dikembangkan sistem-istem yang melingkupi pengaliran air, sebagai media pemadaman guna mencegah bahaya kebakaran skala besar, sistem pencegahan tersebut diantaranya adalah:

1. Sistem hidran

2. Sistem sprinkle

clip_image002

Gambar Sprinkler System

3. Perancangan Pengudaraan/penghawaan

Untuk mencapai kenyamanan, kesehatan, dan kesegaran hidup dalam rumah tinggal atau bangunan bertingkat, khususnya kegiatan-kegiatan yang dilakukan pada daerah yang beriklim tropis dengan udaranya yang panas dan kelembaban udaranya yang tinggi, maka diperlukan usaha untuk mendapatkan udara segar dari aliran udara alam maupun aliran udara buatan . Perencangan pengudaraan atau penghawaan adalah perencanaan untuk mendapatkan aliran udara yang tepat untuk ruangan serta pengontrolannya.

clip_image003

Gambar Penyejuk Udara Buatan (AC)

4. Perancangan Penerangan/pencahayaan

Pada perencanaan penerangan dan pencahayaan gedung dimaksudkan agar bangunan tersebut mendapat pencahayaan dan penerangan yang baik pada siang hari maupun pada malam hari . Dewasa ini pemanfaatan pencahayaandigunakan sumber alami dan telah diatur berdasarkan SNI 03 – 2396 – 2001 tentang “Tata cara perancangan sistem pencahayaan alami pada bangunan gedung”.

Selain itu dalam perencanaan penerangan atau pencahayaan juga mempertimbangkan tentang standar pencahayaan buatan yang diatur pada SNI 03- 6575-2001 tentang “Tata cara perancangan sistem pencahayaan buatan pada bangunan gedung”.

5. Perancangan Telepon

Perancangan telepon pada gedung harus mempertimbangkan kepada perencanaan sistem komunikasi antara ruangan (intercom) dan perencanaan sistem komunikasi luar. Perancangan ini juga harus memperhatikan sistem pengaturan pemasangan kabel dalam bangunan sedemikian rupa sehingga tidak menggangu estetika pada bangunan serta untuk memudahkan dalam perawatan.

Perencanaan arus lemah telepon, sistem telepon harus menggunakan sistem hubungan seperti saluran untuk daya pembangkit komputer, yaitu aliran di dalam lantai (floor duct).

clip_image005

Gambar Telepon

6. Perancangan CCTV dan Sekuriti Sistem

clip_image002

Gambar Sistem Keamanan CCTV


CCTV (Closed Circuit Television) adalah suatu alat yang berfungsi untuk memonitor suatu ruangan melalui layar televisi atau monitor, yang menampilkan gambar dari rekaman kamera yang dipasang di setiap sudut ruangan (biasanya tersembunyi) yang diinginkan oleh bagian keamanan. Sistem kameran dan televisi ini terbatas pada gedung tersebut (closed). Semua kegiatan di dalamnya dapat dimonitor di suatu ruangan sekuriti.

7. Perancangan Penangkal Petir

Pengamanan bangunan bertingkat dari bahaya sambaran petir perlu dilakukan dengan memasang suatu alat penangkal petir pada puncak bangunan tersebut. Penangkal petir ini harus dipasang pada bangunan-bangunan yang tinggi, minimal bangunan 2 lantai, terutama yang paling tinggi di antara sekitarnya.

clip_image009

Sumber : http://networking.jaringan-komputer.com, 2011

Gambar Komponen Istalasi Penangkal Petir

8. Perancangan Tata Suara

Sistem tata suara perlu direncanakan untuk memberikan fasilitas kelengkapan pada bangunan. Tata suara ini dapat berupa background music dan announcing system (public address) yang berfungsi sebagai penghias keheningan ruangan atau kalau ada pengumuman-pengumuman tertentu. Selain itu juga ada sistem untuk car call, bagi bangunan-bangunan umum. Peralatan dari sistem tata suara tersebut dapat berupa, microphone, cassette deck, mix amplifier, speaker, speaker selector switch, volume control, dan horn speaker (untuk car call).

9. Perancangan Transportasi dalam bangunan

Sebuah bangunan yang besar atau tinggi memerlukan suatu alat angkut transportasi untuk memberikan suatu kenyamanan dalam berlalu-lalang di bangunan tersebut. Alat transportasi tersebut mempunyai sifat berdasarkan arah geraknya sebagai alat angkut dalam bentuk arah vertikal berupa elevator, arah horizontal berupa konveyor, arah diagonal berupa eskalator.

clip_image011

Gambar Elevator

10. Perancangan Landasan Helikopter

Bangunan yang tinggi, lebih dari 40 m, dianjurkan untuk membuat suatu landasan helikopter. Landasan ini berfungsi sebagai tempat helikopter mendarat supaya dapat dengan mudah dan cepat memberikan pertolongan apabila terjadi kecelakaan, seperti kebakaran atau terjebak diruang atas.

11. Perancangan Alat Pembersih bangunan

Perancangan alat pembersih bangunan yang diterapkan pada bangunan tinggi biasanya menggunakan gondola. Sistem gondola digunakan untuk membersihkan debu pada dinding dan kaca bangunan, sehingga warnanya tetap terjaga dan terawat.

image

Gambar Gondola

Kamis, 24 Maret 2016

PERANCANGAN HOTEL

4_orea hotel pyramida

 

Pengertian Hotel Secara Umum

Pengertian Hotel menurut Hotel Prpictors Act, 1956 (Sulatiyono, 1999:5) adalah suatu perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya dengan menyediakan makanan, minuman, dan fasilitas kamar untuk tidur kepada orang orang yang sedang melakukan perjalanan dan mampu membatar dengan jumlah wajar sesuai dengan pelayanan yang diterima tanpa adanya perjanjian khusus (perjanjian membeli barang yang disertai dengan perundingan perundingan sebelumnya).

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi No. KM. 37/PW.304/MPPT-86 : Hotel sebagai jenis akomodasi yang mempergunakan sebagian besar atau seluruh bangunan untuk menyediakan jasa penginapan, makan dan minum serta jasa lainnya bagi umum, yang dikelola secara komersial.

Definisi hotel menurut Webster New World Dictionary “Hotel as a commercial establishment providing lodging and usually meals and other services for the public, especially for travels.” (Fred R.Lawson, 1988). Yang artinya hotel adalah suatu bangunan yang menyediakan jasa penginapan, makanan, minuman, serta pelayanan lainnya untuk umum yang dikelola secara komersial terutama untuk para wisatawan.

Sedangkan pengertian yang dimuat oleh Grolier Electronic Publishing Inc.(1995) yang menyebutkan bahwa : Hotel adalah usaha komersial yang menyediakan tempat menginap, makanan, dan pelayanan-pelayanan lain untuk umum.

Maka dari beberapa pernyataan itu dapat disimpulkan bahwa hotel adalah suatu akomodasi yang menyediakan jasa penginapan, makan, minum, dan bersifat umum serta fasilitas lainnya yang memenuh syarat kenyamanan dan dikelola secara komersil.

Penggolongan Hotel

Pemerintah telah menetapkan kualitas dan kuantitas hotel yang menjadi kebijaksanaan yang berupa standar jenis klasifikasi yang ditujukan serta berlaku bagi suatu hotel. Penentuan jenis hotel berdasarkan letak, fungsi, susunan organisasinya dan aktifitas penghuni hotel sesuai dengan SK Mentri Perhubungan RI No. 241/4/70 tanggal 15 Agustus 1970. Hotel digolongkan atas :

  • Residential Hotel, yaitu hotel yang disediakan bagi para pengunjung yang mnginap dalam jangka waktu yang cukup lama. Tetapi tidak bermaksud menginap. Umumnya terletak dikota, baik pusat maupun pinggir kota dan berfungsi sebagai penginapan bagi orang-orang yang belum mendapatkan perumahan dikota tersebut.
  • Transietal Hotel, yaitu hotel yang diperuntukkan bagi tamu yang mengadakan perjalanan dalam waktu relative singkat. Pada umumnya jenis hotel ini terletak pada jalan jalan utama antar kota dan berfungsi sebagai terminal point. Tamu yang menginap umumnya sebentar saja, hanya sebagai persinggahan.
  • Resort Hotel, yaitu diperuntukkan bagi tamu yang sedang mengadakan wisata dan liburan. Hotel ini umumnya terletak didaerah rekreasi/wisata. Hotel jenis ini pada umumnya mengandalkan potensi alam berupa view yang indah untuk menarik pengunjung.

Klasifikasi Hotel

Berdasarkan keputusan Dirjen Pariwisata No. 14/U/II/1988, tentang usaha dan pengelolaan hotel menjelaskan bahwa klasifikasi hotel menggunakan sistem bintang.Dari kelas yang terendah diberi bintang satu, sampai kelas tertinggi adalah hotel bintang lima.

Sedangkan hotel-hotel yang tidak memenuhi standar kelima kelas tersebut atau yang berada dibawah standar minimum yang ditentukan disebut hotel non bintang. Pernyataan penentuan kelas hotel ini dinyatakan oleh Dirjen Pariwisata dengan sertifikat yang dikeluarkan dan dilakukan tiga tahun sekali dengan tata cara pelaksanaan ditentukan oleh Dirjen Pariwisata.

Dasar penilaian yang digunakan antara lain mencakup:

  • Persyaratan fisik, meliputi lokasi hotel dan kondisi bangunan.
  • Jumlah kamar yang tersedia.
  • Bentuk pelayanan yang diberikan
  • Kualifikasi tenaga kerja, meliputi pendidikan dan kesejahteraan karyawan.
  • Fasilitas olahraga dan rekreasi lainnya yang tersedia seperti kolam renang lapangan tenis dan diskotik.

Klasifikasi hotel berbintang tersebut secara garis besar adalah sebagai berikut :

a. Hotel bintang satu

  • Jumlah kamar standar minimal 15 kamar dan semua kamar dilengkapi kamar mandi didalam
  • Ukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 20 m2 untuk kamar double dan 18 m2 untuk kamar single
  • Ruang public luas 3m2 x jumlah kamar tidur tidur, minimal terdiri dari lobby, ruang makan (> 30m2) dan bar.
  • Pelayanan akomodasi yaitu berupa penitipan barang berharga.

b. Hotel bintang dua

  • Jumlah kamar standar minimal 20 kamar (termasuk minimal 1 suite room, 44 m2).
  • Ukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 20m2 untuk kamar double dan 18 m2 untuk kamar single.
  • Ruang public luas 3m2 x jumlah kamar tidur, minimal terdiri dari lobby, ruang makan (>75m2) dan bar.
  • Pelayanan akomodasi yaitu berupa penitipan barang berhargam penukaran uang asing, postal service, dan antar jemput.

c. Hotel bintang tiga

  • Jumlah kamar minimal 30 kamar (termasuk minimal 2 suite room, 48m2).
  • Ukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 22m2 untuk kamar single dan 26m2 untuk kamar double.
  • Ruang publik luas 3m2 x jumlah kamar tidur, minimal terdiri dari lobby, ruang makan (>75m2) dan bar.
  • Pelayanan akomodasi yaitu berupa penitipan barang berharga, penukaran uang asing, postal service dan antar jemput.

d. Hotel bintang empat

  • Jumlah kamar minimal 50 kamar (temrasuk minimal 3 suite room, 48 m2)
  • Ukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 24 m2 untuk kamar single dan 28 m2 untuk kamar double
  • Ruang public luas 3m2 x jumlah kamar tidur, minimal terdiri dari kamar mandi, ruang makan (>100 m2) dan bar (>45m2)
  • Pelayanan akomodasi yaitu berupa penitipan barang berharga, penukaran uang asing, postal service dan antar jemput.
  • Fasilitas penunjang berupa ruang linen (>0,5m2 x jumlah kamar), ruang laundry (>40m2), dry cleaning (>20m2), dapur (>60% dari seluruh luas lantai ruang makan).
  • Fasilitas tambahan : pertokoan, kantor biro perjalanan, maskapai perjalanan, drugstore, salon, function room, banquet hall, serta fasilitas olahraaga dan sauna.

e. Hotel bintang lima

  • Jumlah kamar minimal 100 kamar (termasuk mminimal 4 suite room, 58m2)
  • Ukuran kamar minimum termasuk kamar mandi 26 m2 untuk kamar single dan 52m2 untuk kamar double.
  • Ruang public luas 3m2 x jumlah kamar tidur, minimal terdiri dari lobby, ruang makan (>135m2) dan bar (>75m2).
  • Pelayanan akomodasi yaitu berupa penitipan barang berharga, penukaran uang asing, postal service dan antar jemput.
  • Fasilitas penunjang berupa ruang linen (>0,5m2 x jumlah kamar), ruang laundry (>40m2), dry cleaning (>30m2), dapur (>60% dari seluruh luas lantai ruang makan).
  • Fasilitas tambahan : pertokoan, kantor biro perjalanan, maskapai perjalanan, drugstore, salon, function room, banquet hall, serta fasilitas olahraaga dan sauna.
  • Dengan adanya klasifikasi hotel tersebut dapat melindungi konsumen dalam memperoleh fasilitas yang sesuai dengan keinginan.Memberikan bimbingan pada pengusaha hotel serta tercapainya mutu pelayanan yang baik.

Jumat, 18 Maret 2016

Arsitektur Bioklimatik




Pengertian Arsitektur Bioklimatik

Arsitektur bioklimatik adalah suatu pendekatan yang mengarahkan arsitek untuk mendapatkan penyelesaian desain dengan memperhatikan hubungan antara bentuk arsitektur dengan lingkungannya dalam kaitanyan iklim daerah tersebut. Pada akhirnya bentuk arsitektur yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh budaya setempat, dan hal ini akan berpengaruh pada ekspresi arsitektur yang akan ditampilakan dari suatu bangunan, selain itu pendekatan bioklimtaik akan mengurangi ketergantungan karya arsitektur terhadap sumber – sumber energi yang tidak dapat dipengaruhi.

perkembangan arsitektur bioklimatik

Perkembangan Arsitektur Bioklimatik berawal dari 1960-an. Arsitektur Bioklimatik merupakan arsitektur modern yang dipengaruhi oleh iklim. Arsitektur bioklimatik merupakan pencermian kembali arsitektur Frank Loyd Wright yang terkenal dengan arsitektur yang berhubungan dengan alam dan lingkungan dengan prinsip utamanya bahwa didalam seni membangun tidak hanya efisiensinya saja yang dipentingkan tetapi juga ketenangannya, keselarasan, kebijaksanaan, kekuatan bangunan dan kegiatan yang sesuai dengan bangunannya, “Oscar Niemeyer dengan falsafah arsitekturnya yaitu penyesuaian terhadap keadaan alam dan lingkungan, penguasaan secara fungsional, dan kematangan dalam pengolahan secara pemilihan bentuk, bahan dan arsitektur”.
Akhirnya dari Frank Wright dan Oscar Niemeyer lahirlah arsitek lain seperti Victor Olgay pada tahun 1963 mulai memperkenalkan arsitektur bioklimatik. Setalah tahun 1990-an Kenneth Yeang mulai menerapkan arsitektur bioklimatik pada bangunan tinggi bioklimatik yang memenangkan penghargaan Aga Khan Award tahun 1966 dan Award pada tahun 1966

Prinsip Desain Bioklimatik Menurut Yeang (Bioclimatic Skyscrapers)

1. Penempatan Core Menurut Yeang,

Posisi service core sangat penting dalam merancang bangunan tingkat tinggi. Service core bukan hanya sebagai bagian struktur, juga mempenagruhi kenyamanan ternal.
Posisi core dapat diklasifikasikan dalam tiga bentuk, yaitu :
  • 1.    Core pusat
  • 2.    Core ganda 
  • 3 .   Core tunggal terletak pada sisi bangunan.
1. Core Pusat
    2. Core Ganda
3. Core Tunggal (sisi bangunan)
Core ganda memiliki banyak keuntungan, dengan memakai dua core dapat dijadikan sebagai penghalang panas yang masuk kedalam bangunan. Penelitian harus menunjukkan penggunaan pengkondisian udara secara minimum dari penempatan service core ganda yang tampilan jendala menghadap utara dan selatan, dan core ditempatkan pada sisi timur dan barat. Penerapan ini juga dapat diterapkan pada daerah beriklim sejuk

2. Menetukan Orientasi

Bangunan tingkat tinggi mendapatkan penyinaran matahari secara penuh dan radiasi panas. Orientasi bangunan sangat penting untuk menciptakan konservasi energi. Secara umum, susunan bangunan dengan bukaan menghadap utara dan selatan memberikan keuntungan dalam mengurangi insulasi panas.Orientasi bangunan yang terbaik adalah meletakkan luas permukaan bangunan terkecil menghadap timur – barat memberikan dinding eksternal pada luar ruangan atau pada emperan terbuka. Kemudian untuk daerah tropis peletakan core lebih disenangi pada poros timur-barat. Hal ini dimaksudkan daerah buffer dan dapat menghemat AC dalam bangunan.

3. Penempatan Bukaan Jendela

Bukaan jendela harus sebaiknya menghadap utara dan selatan sangat penting untuk mendapatkan orientasi pandangan. Jika memperhatikan alasan easthetic, curtain wall bisa digunakan pada fasad bangunanyang tidak menghadap matahari. Pada daerah iklim sejuk, ruang transisional bisa menggunakan kaca pada bagian fasad yang lain maka teras juga berfungsi sebagai ‘ruang sinar matahari’, berkumpulnya panas matahari, sperti rumah kaca. Penempatan bukaan jendela pada bangunan bioklimatik dapat dilihat pada gambar 13 berikut ini.


Menggunakan kaca jendela yang sejajar dengan dinding luar dengan menggunakan kaca dengan sistem Metrical Bioclimatic Window (MBW). MBW didesain sebagai sistem elemen dengan fungsi yang dikhususkan untuk ventilasi, perlindungan tata surya, penerangan alami, area visualisasi, dan kebebasan pribadi serta sistem luar yang aktif.
Sistem MBW disadur dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Sistem ini bermaksud mengatur kondisi ternal ruangan dengan menggunakan maksud bioklimatik teknik, yaitu :
· Penurunan perolehan panas oleh radiasi surya.
· Control perolehan panas oleh konveksi dan penggunaan ventilasi silang ataupun dengan pemilihan cerobong asap.
Dengan penggunaan teknik diatas, maka pencahayaan lebih maksimal dan udara pada malam hari dapat menjadi lebih sejuk.

4. Penggunaan Balkon




Menempatkan balkon akan membuat area tersebut menjadi bersih dari panel – panel sehingga mengurangi sisi panas yang menggunakan panas. Karena adanya teras – teras yang lebar akan mudah membuat taman dan menanam tanaman yang dapat dijadikan pembayang sinar yang alami, dan sebagai daerah fleksibel akan mudah untuk menambah fasilitas – fasilitas yang akan tercipta dimasa yang akan datang.

5. Membuat ruang Transisional

Menurut Yeang, ruang transisional dapat diletakkan ditengah dan sekeliling sisi bangunan sebagai ruang udara dan atrium. Ruang ini dapat menjadi ruang perantaran antara ruang dalam dan ruang luar bangunan. Ruang ini bisa menjadi koridor luar seperti rumah – rumah toko tua awal abad sembilan belas di daerah tropis. Membuat ruang transisional pada fasad bangunan bioklimatik dapat dilihat pada gambar 15 berikut ini.

MenurutYeang, penempatan teras pada bagian dengan tingkat panas yang tinggi dapat mengurangi penggunaan panel – panel anti panas. Hal ini dapat memberikan akses ke teras yang dapat juga digunakan sebagai area evakuasi jika terjadi bencana seperti kebakaran. Penggunaan balkon pada bangunan bioklimatik dapat dilihat pada gambar 14 berikut ini.Atrium sebaiknya tertutup, tetapi diletakkan diantara ruangan. Puncak bangunan sebaiknya dilindungi oleh sirip – sirip atap yang mendorong angin masuk kedalam bangunan. Hal ini juga bisa di desain sebagai fungsi Wind scoopsuntuk mengendalikan pengudaraan alami yang masuk kedalam bagian gedung.

6. Desain Pada Dinding

Penggunaan mebran yang menghubungkan bangunan dengan lingkungan dapat dijadikan sebagai kulit pelindung. Pada iklim sejuk dinding luar harus dapat menahan dinginnya musim dingin dan panasnya musim panas. Pada kasus ini, dinding luar harus seperti pelindung insulasi yang bagus tetapi harus dapat dibuka pada musim kemarau. Pada daerah tropis dinding luar harus bisa digerakkan yang mengendalikan dan cross ventilation untuk kenyamanan dalam bangunan. Desain dinding pada bangunan bioklimatik.


7. Hubungan Terhadap Landscape

Menurut Yeang, lantai dasar bangunan tropis seharusnya lebih terbuka keluar dan menggunakan ventilasi yang alami karena hubungan lantai dasar dengan jalan juga penting. Fungsi atrium dalam ruangan pada lantai dasar dapat mengurangi tinggkat kepadatan jalan. Tumbuhan dan lanskap digunakan tidak hanya untuk kepentingan ekologis dan eastetik semata, tetapi juga membuat bangunan menjadi lebih sejuk. Hubungan terhadap landscape dapat dilihat pada gambar 17 berikut ini.


Mengintegrasikan antara elemen boitik tanaman dengan elemen boitik, yaitu : bangunan. Hal ini dapat memberikan efek dingin pada bangunan dan membantu proses penyerapan O2 dan pelepasan CO2.

8. Menggunakan Alat Pembayang Pasif

Menurut Yeang, pembayang sinar matahari adalah esensi pembiasan sinar matahari pada dinding yang menghadap matahri secara langsung (pada daerah tropis berada disisi timur dan barat) sedangkan croos ventilationseharusnya digunakan (bahkan diruang ber-AC) meningkatkan udara segar dan mengalirkan udara panas keluar. Penggunaan alat pembayang pasif dapat dilihat pada gambar 18 berikut ini



Pemberian ventilasi yang cukup pada ruangan dengan peraturan volumetric aliran udara. Dengan adanya ventilasi, maka udara panas diatas gedung dapat dialirkan kelingkungan luar sehingga dapat menyegarkan ruangan kembali.

9. Penyekat Panas Pada Lantai

Menurut Yeang, insolator panas yang baikpada kulit bangunan dapat mengurangi pertukaran panas yang terik dengan udara dingin yang berasal dari dalam bangunan. Karakterisitk thermal insulation adalh secara utama ditentukan oleh komposisinya. Denga lasan tersebut maka thermal insolation dibagi menjadi lima bagian utama, walaupun banyak insulator yang utama kerupakan turunan produk jenis – jenis ini. Penyekat panas pada lantai bangunan bioklimatik dapat dilihat pada gambar 19 berikut ini.
Lima jenis utama, adalah :
· Flake (serpihan)
· Fibrous (berserabut)
· Granular (butiran – butiran)
· Cellular (terdiri dari sel)
· Reflective (memantulkan)




Struktur massa bangunan bekerja melepas panas pada siang hari dan melepas udara dingin pada siang hari. Pada iklim sejuk struktur bangunan dapat menyerap panas matahari sepanjang siang hari dan melepaskannya pada siang hari. Solar window atau solar-collector heat ditempatkan didepan fisik gedung untuk menyererap panas matahari.

Sumber: ozhuarch-2806.blogspot.com/ arsitektur Bioklimatik

Selasa, 22 September 2015

8 Restoran dengan Konsep yang Sangat Unik

Apakah kamu pernah mendengar tentang makan malam sambil duduk di kursi toilet atau makan dalam kegelapan hanya menggunakan indera rasa dan bau ? atau makan di tempat yang penuh dengan kejutan dan petualangan ?. Nah, beberapa restoran unik ini adalah yang paling tidak biasa dan menarik. Restoran berikut menawarkan lebih dari sekedar makan malam, mereka memberikanmu sebuah pengalaman dan inspirasi yang menarik dari makan malam di sebuah tempat yang akan selalu berkesan.
1. Magic Restroom Cafe – Restoran Kursi Toilet  (Los Angeles, U.S.)

1. Magic Restroom Cafe – Restoran Kursi Toilet  (Los Angeles, U.S.)

Sihir Restroom Cafe adalah restoran pertama yang bertema toilet di Amerika dan resmi dibuka pada 11 Oktober 2013. Konsepnya adalah restoran dengan toilet duduk sebagai pengganti kursi. Ini menarik dan unik. Terasa aneh untuk makan di lingkungan yang sama sekali berbeda dan secara alami tidak dimaksudkan untuk makan, tapi makanan yang disajikan di sini sangat baik dan tentunya higenis.

2. ALCATRAZ E.R – Restoran Rumah Sakit - Penjara (Shibuya, Jepang)

2. ALCATRAZ E.R – Restoran Rumah Sakit - Penjara (Shibuya, Jepang)

ALCATRAZ ER adalah restoran bertema rumah sakit dan penjara di kota Tokyo. Dengan semua hal-hal aneh tentunya. Ini adalah salah satu restoran Jepang yang populeryang menampilkan lingkungan penjara dan rumah sakit yang penuh dengan unsur medis. Ada makanan yang disajikan di jarum suntik, manekin dan tabung kimia untuk memberikan pengalaman yang berbeda.

3. Modern Toilet – Restoran Toilet (Taiwan, China)

3. Modern Toilet – Restoran Toilet (Taiwan, China)

Restoran bertajuk Toilet modern ini adalah bagian dari restoran di Taiwan dan China yang buka mulai dari tahun 2004. Awalnya bernama Marton Restoran kemudian berubah menjadi restoran Toilet Modern dan sejumlah restoran Modern Toilet lainnya dibuka di Taiwan dan Cina sejak tahun 2004. Sebagai restoran bertema kamar mandi, makanan akan disajikan di mangkuk berbentuk mirip toilet di atas meja kaca yang mirip dengan meja yang ada di kamar mandi.

4. NINJA Akasaka – Restoran Ninja Atraktif (Jepang)

4. NINJA Akasaka – Restoran Ninja Atraktif (Jepang)

Restoran NinjaAkasaka adalah restoran bertema pada Ninjayang terkenal di jepang. Apa yangbegitu aneh di sini adalah makan dalam kegelapan dan ada Ninja berkerudung yang membawakan makanan pada pengunjung. Ninja membawa pengunjung ke ruang makan di sebuah gua. Jalan menuju meja makan dibuat dengan banyakkejutan dan pengunjung hanya diterangi denganobor.

5. Cave Restaurant & Resort – Restoran Gua (Richland, Missouri, Amerika)

5. Cave Restaurant & Resort – Restoran Gua (Richland, Missouri, Amerika)

Restoran Gua, itulah namanya untuk restoran yang tampil seperti sebuah gua memberikan pengunjungpengalaman seperti berada di petualangan dunia purba. Pengelola telah menciptakan lingkungan yang tidak biasa dengan interior yang nampak alami layaknya gua sungguhan. Restoranini berbasis di Missouri, Amerika.



6. Ninja NY – Restoran Nuansa Ninja Jepang (New York, Amerika)

6. Ninja NY – Restoran Nuansa Ninja Jepang (New York, Amerika)

Ninja NY adalah satu lagi restoran bertema Ninja di New York, Amerika. Ini adalah restoran yang  lucu, menarik dan menyenangkan. Restoran untuk makan malam ini dilayani oleh Ninja layaknya di jepang. Restoran ini berlokasi di kota New York. 

7. Opaque – Makan dalam Gelap (Los Angeles, San Francisco, San Diego, New York, Dallas)

7. Opaque – Makan dalam Gelap (Los Angeles, San Francisco, San Diego, New York, Dallas)

Nikmati cara yang baru menikmati makanan ditempat gelap. Ini merupakan sebuah restoran bertemakan kegelapan yang melayani pengunjung di Amerika. Di restoran ini pengunjung harus membayangkanmakanan dengan bantuan indera lain seperti orang buta.

8. Casa Bonita – Restoran ala Mexico (Lakewood, Colorado)

8. Casa Bonita – Restoran ala Mexico (Lakewood, Colorado)

Casa Bonita menawarkan banyak petualangan pada interiornya seperti air terjun 30 kaki, wahana menyelam dan makanan khas Meksiko. Casa Bonita adalah sebuah restoran Meksiko bertema petualangan yang berlokasi di Lakewood, Colorado.
Nah demikian restoran unik semoga bermanfaat dan menjadi inspirasi :)

Rabu, 11 Februari 2015

PERANCANGAN RUMAH SAKIT

Capture
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No.44 Tahun.2009
Pasal.1 Tentang Rumah Sakit, Rumah Sakit adalah Institusi pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan perorangan secara paripurna yang menyediakan pelayanan rawat inap, rawat jalan, dan gawat darurat.
Undang-undang tersebut juga menjelaskan mengenai pembagian rumah sakit berdasarkan jenis pelayanan yang diberikan, Rumah Sakit dikategorikan menjadi, Rumah Sakit Umum dan Rumah Sakit Khusus.
  • Rumah Sakit Umum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan pelayanan kesehatan pada semua bidang dan jenis penyakit.
  • Rumah Sakit Khusus sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memberikan pelayanan utama pada satu bidang atau satu jenis penyakit tertentu berdasarkan disiplin ilmu, golongan umur, organ, jenis penyakit, atau kekhususan lainnya.
Rumah sakit sebagai sarana pelayanan kesehatan, yang berjenjang dan fungsi rujukan, rumah sakit umum dan rumah sakit khusus diklasifikasikan berdasarkan fasilitas dan kemampuan pelayanan Rumah Sakit, Klasifikasi Rumah Sakit Umum beserta jumlah minimal tempat tidur yang tersedia adalah:
  • Rumah Sakit umum kelas A - tempat tidur minimal 400 buah ,
  • Rumah Sakit umum kelas B - tempat tidur minimal 200 buah,
  • Rumah Sakit umum kelas C - tempat tidur minimal 100 buah,
  • Rumah Sakit umum kelas D - tempat tidur minimal 50 buah.
Dalam perancangan sebuah rumah sakit, aspek lokasi menjadi pertimbangan, selain fungsinya sebagai sarana pelayanan kesehatan, pemilihan lokasi sarana pelayanan kesehatan menurut Pedoman
Penentuan Standart Pelayanan Minimal Bidang Penataan Ruang, Perumahan dan Pemukiman dan Pekerjaan Umum (Keputusan Mentri Pemukiman dan Prasarana Wilayah No. 534/KPTS/M/2001), yaitu Rumah Sakit sebaiknya berada di pusat lingkungan/ kecamatan, bersih, mudah dicapai, tenang, jauh dari sumber penyakit, sumber bau/ sampah, dan pencemaran lainnya.
Pertimbangan lokasi sebuah rumah sakit selain jauh dari sumber pencemaran seperti pabrik. Rumah sakit juga diharapkan tidak menimbulkan pencemaran bagi lingkungan sekitarnya. Menurut KEPMENKES RI No.1204/MENKES/SK/X/2004 Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit tentang Pengelolaan Limbah (Hal.17) Limbah rumah sakit adalah semua limbah yang dihasilkan dari kegiatan rumah sakit dalam bentuk padat, cair, dan gas.
Minimasi limbah adalah upaya yang dilakukan rumah sakit untuk mengurangi jumlah limbah yang dihasilkan dengan cara mengurangi bahan (reduce), menggunakan kembali limbah (reuse) dan daur ulang limbah (recycle).

Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit

Menurut American Hospital Association tahun 1978
Rawat inap adalah :
  • Pemeliharaan kesehatan rumah sakit dimana penderita tinggal/mondok sedikitnya satu hari berdasarkan rujukan dari pelaksana pelayanan kesehatan atan rumah sakit pelaksana pelayanan kesehatan lain.
  • Pelayanan kesehatan perorangan yang meliputi pelayanan kesehatan perorangan, yang meliputi observasi, diagnosa, pengobatan, keperawatan, rehabilitasi medik, dengan menginap di ruang rawat inap pada sarana kesehatan rumah sakit pemerintah dan swasta serta puskesmas perawatan dan rumah bersalin, yang oleh karena penyakitnya penderita harus menginap.
Fasilitas Rawat Inap Rumah Sakit merupakan bagian dari rumah sakit yang mempunyai fungsi vital dalam memberikan pelayanan kesehatan bagi pasien, terdapat berbagai ketentuan dan persyaratan dalam merancang sebuah ruang rawat inap rumah sakit untuk memperoleh sebuah ruang rawat inap yang memadai dalam memberikan pelayanan kesehatan.
Menurut Pedoman Teknis Instalasi rawat Inap (Pedoman Teknis Sarana dan Prasarana Bangunan Instalasi Rawat Inap Umum), meliputi pedoman perancangan, persyaratan ruang rawat inap, persyaratan teknis sarana bangunan instalasi rawat inap, lokasi, denah (besaran ruang minimal), persyaratan teknis prasarana bangunan, syarat keselamatan bangunan.

Kegiatan dalam Instalasi Rawat Inap

Kegiatan yang terjadi dalam sebuah instalasi rawat inap, menurut pengguna kegiatan, yaitu pasien dan tenaga kesehatan dapat dilihat dalam skema alur kegiatan dalam instalasi rawat inap.
clip_image003Gambar. Alur kegiatan instalasi rawat inap (Pedoman Teknis Instalasi Rawat Inap)

Kebutuhan Ruang dalam Instalasi Rawat Inap

Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit merupakan sarana pelayanan kesehatan yang memberikan pelayanan keperawatan dan pengobatan kepada pasien secara berkesinambungan lebih dari 24 jam.
Perancangan sebuah instalasi rawat inap dapat ditinjau dari aspek fungsional bangunan sebagai sarana pelayanan kesehatan, yang membutuhkan ruang-ruang sebagai wadah dari aktifitas pasien dan tenaga kesehatan. Menurut Pedoman Teknis Instalasi rawat Inap, berikut adalah ruang yang diperlukan dalam sebuah instalasi rawat inap:
  1. Ruang Pasien Rawat Inap (ward / bangsal)
  2. Ruang Pos Perawat
    Ruang untuk melakukan perencanaan, pengorganisasian asuhan dan pelayanan keperawatan (pre dan post conference, pengaturan jadwal), dokumentasi sampai dengan evaluasi pasien.
  3. Ruang Konsultasi Dokter.
  4. Ruang Tindakan.
  5. Ruang Administrasi.
    Ruang untuk menyelenggarakan kegiatan administrasi khususnya pelayanan pasien di ruang rawat inap. Ruang ini berada pada bagian depan ruang rawat inap dengan dilengkapi loket/counter, meja kerja, lemari berkas/arsip, dan telepon/interkom, meliputi kegiatan:
  6. Ruang Dokter.
    Ruang Dokter terdiri dari 2 ruangan, yaitu kamar kerja dan kamar istirahat/kamar jaga.Pada kamar kerja harus dilengkapi dengan beberapa peralatan dan furnitur. Sedangkan pada kamar istirahat hanya diperlukan sofa dan tempat tidur. Ruang Dokter dilengkapi dengan bak cuci tangan (wastafel) dan toilet.
  7. Ruang perawat.
    Ruang untuk istirahat perawat/petugas lainnya setelah melaksanakan kegiatan pelayanan pasien atau tugas jaga. Ruang perawat harus diatur sedemikian rupa untuk mempermudah semua pihak yang memerlukan pelayanan pasien sehingga apabila ada keadaan darurat dapat segera diketahui untuk diambil tindakan terhadap pasien.
  8. Ruang Loker.
  9. Ruang kepala rawat inap.
  10. Ruang linen bersih
    Ruang untuk menyimpan bahan-bahan linen bersih yang akan digunakan di ruang rawat.
  11. Ruang linen kotor
    Ruangan untuk menyimpan bahan-bahan linen kotor yang telah digunakan di ruang rawat inap sebelum di bawa ke ruang cuci (laundry).
  12. Spoolhoek.
    Fasilitas untuk membuang kotoran bekas pelayanan pasien khususnya yang berupa cairan. Spoelhoek dalam bentuk bak atau kloset dengan leher angsa (water seal). Pada ruang spoehoek juga harus disediakan kran air bersih untuk mencuci tempat cairan atau cuci tangan. Ruang tempat spoelhoek ini harus menghadap keluar/berada di luar area rawat inap ke arah koridor kotor. Spoelhoek dihubungkan ke septic tank khusus atau jaringan IPAL.
  13. Kamar mandi/Toilet.
  14. Pantri.
  15. Ruang Janitor.
  16. Gudang bersih
    Gudang adalah ruangan tempat penyimpanan barang- barang/bahan-bahan dan peralatan untuk keperluan ruang rawat inap.
  17. Gudang Kotor.
    Gudang adalah ruangan tempat penyimpanan barang- barang/bahan-bahan bekas pakai.

Konstruksi Bangunan Rumah Sakit

Perancangan sebuah bangunan gedung rawat inap rumah sakit selain ditinjau dari aspek fungsional bangunan, sebagai sarana pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan, aspek konstruksi bangunan juga menjadi faktor yang penting dalam menghasilkan sebuah ruang yang dapat menunjang kegiatan pelayanan kesehatan., khususnya fasilitas instalasi rawat inap
Persyaratan konstruksi bangunan rumah sakit yang perlu diperhatikan dalam perancangan bangunan adalah sebagai berikut (KEPMENKES RI No.1204/MENKES/SK/X/2004 tentang Persyaratan Kesehatan Lingkungan Rumah Sakit)
  • Lantai Lantai harus terbuat dari bahan yang kuat, kedap air, permukaan rata, tidak licin, warna terang, dan mudah dibersihkan. Untuk lantai yang selalu kontak dengan air harus mempunyai kemiringan yang cukup ke arah saluran pembuangan air limbah. Pertemuan lantai dengan dinding harus berbentuk konus/lengkung agar mudah dibersihkan
  • Dinding Permukaan dinding harus kuat, rata, berwarna terang dan menggunakan cat yang tidak luntur serta tidak menggunakan cat yang mengandung logam berat
  • Ventilasi Dalam perancangan rumah sakit ventilasi bertujuan untuk penghawaan seluruh bangunan, baik alami maupun buatan. Ventilasi alamiah harus dapat menjamin aliran udara di dalam kamar/ruang dengan baik, Luas ventilasi alamiah minimum 15 % dari luas lantai, apabila ventilasi alamiah tidak dapat menjamin adanya pergantian udara dengan baik, kamar atau ruang harus dilengkapi dengan penghawaan buatan/mekanis, Penggunaan ventilasi buatan/mekanis harus disesuaikan dengan peruntukkan ruangan.
  • Langit-langit Langit-langit harus kuat, berwarna terang, dan mudah dibersihkan.dengan ketinggian minimal 2,70 meter dari lantai.

Fasilitas Pemadam Kebakaran

  • Bangunan rumah sakit dilengkapi dengan fasilitas pemadam kebakaran sesuai dengan ketentuan yang berlaku meliputi Hydran dan APAR (Alat Pemadam Api Ringan).

Lalu Lintas Antar Ruangan

  • Pembagian ruangan dan lalu lintas antar ruangan harus didisain sedemikian rupa dan dilengkapi dengan petunjuk letak ruangan, sehingga memudahkan hubungan dan komunikasi antar ruangan serta menghindari risiko terjadinya kecelakaan dan kontaminasi
  • Penggunaan tangga atau elevator dan lift harus dilengkapi dengan sarana pencegahan kecelakaan seperti alarm suara dan petunjuk penggunaan yang mudah dipahami oleh pemakainya atau untuk lift 4 (empat) lantai harus dilengkapi ARD (Automatic Rexserve Divide) yaitu alat yang dapat mencari lantai terdekat bila listrik mati.
  • Dilengkapi dengan pintu darurat yang dapat dijangkau dengan mudah bila terjadi kebakaran atau kejadian darurat lainnya dan dilengkapi ram untuk brankar.

Arsitektur Hemat Energi & Energi Listrik

Definisi Energi Listrik:

  • Menurut Prasasto Satwiko (2005) energi adalah kemampuan untuk mengerjakan sesuatu. Energi dapat ditemukan dalam beragam bentuk, seperti energi kimia, energi listrik, energi cahaya, energi panas, energi mekanik, dan energi nuklir. Hukum kekekalan energi menyebutkan bahwa energi tidak dapat dimusnahkan dan diciptakan. Dia hanya dapat berubah-ubah bentuk.
  • Listrik adalah energi yang saat ini kita anggap sebagai energi yang paling luwes. Listrik disebut sebagai sumber energi sekunder. Kita memperoleh energi listrik dengan mengkonversi sumber energi lain (batubara, air, minyak, nuklir, dll) menjadi listrik.

Definisi Arsitektur Hemat Energi

  • Desain hemat energi diartikan sebagai perancangan bangunan untuk meminimalkan penggunaan energi tanpa membatasi fungsi bangunan maupun kenyamanan atau produktivitas penghuninya. “Designing building to minimize the usage of energy without constraining the building function nor the comfort of productivity of occupants..” (Hawkes Dean, 2002)
  • Arsitektur Hemat energi menurut, Tri Harso Karyono (2007), adalah: Kondisi dimana energi dikonsumsi secara hemat (minimal), tanpa harus mengorbankan kenyamanan fisik manusia.
Perancangan sebuah bangunan yang hemat energi merupakan salah satu aspek dalam mewujudkan arsitektur berkelanjutan, menurut Ken Yeang (2006) “Ecological design, is bioclimatic design, design with the climate of the locality, and low energy design.” yang menekankan perancangan pasif yang berbasis pada integrasi kondisi ekologi setempat, iklim makro dan mikro, kondisi tapak, program bangunan, konsep design dan sistem yang tanggap pada iklim, penggunan energi yang rendah.
Perancangan pasif menekankan pada kondisi iklim setempat, dengan mempertimbangkan: Konfigurasi bentuk bangunan dan perencanaan tapak, Orientasi bentuk bangunan (fasad utama dan bukaan), Desain fasade (termasuk jendela, lokasi, ukuran dan detail), Perangkat penahan radiasi matahari (misalkan sunshading pada fasad dan jendela), Perangkat pasif siang hari, Warna dan bentuk selubung bangunan, Tanaman vertikal, serta Angin dan ventilasi alami.
Menurut sebuah artikel di Alpensteel.com Perancangan pasif merupakan cara penghematan energi melalui pemanfaatan energi matahari secara pasif, yaitu tanpa mengonversikan energi matahari menjadi energi listrik. Rancangan pasif lebih mengandalkan kemampuan arsitek bagaimana rancangan bangunan dengan sendirinya mampu “mengantisipasi” permasalahan iklim luar, dengan mengandalkan kemampuan perancang untuk mengantasi fluktuasi iklim luar melalui solusi arsitektural.
Perancangan suatu bangunan yang sadar energi, menurut Ken Yeang dalam bukunya. The Green Skyscraper (Yeang, 2000), menyatakan bahwa terdapat beberapa parameter yang menjadi konsep dasar desain sadar energi, yaitu:
  1. Kenyamanan Thermal
    Bagaimana bangunan dapat mengontrol perolehan sinar matahari sesuai dengan kebutuhannya. Bangunan yang berada pada iklim dingin harus mampu menerima radiasi matahari yang cukup untuk pemanasan, sedangkan bangunan yang berada pada iklim panas, harus mampu mencegah radiasi matahari secukupnya untuk pendinginan.
  2. Kenyamanan Visual
    Membahas mengenai bagaimana bangunan dapat mengontrol perolehan cahaya matahari (penerangan) sesuai dengan kebutuhannya.
  3. Kontrol Lingkungan Pasif
    Dilakukan untuk mencapai kenyamanan thermal maupun visual dengan memanfaatkan seluruh potensi iklim setempat yang dikontrol dengan elemen – elemen bangunan (atap, dinding, lantai, pintu, jendela, aksesoris, lansekap) yang dirancang tanpa menggunakan energi (listrik).
  4. Kontrol Lingkungan Aktif
    Dilakukan untuk mencapai kenyamanan thermal dan visual dengan memanfaatkan potensi iklim yang ada dan dirancang dengan bantuan teknologi maupun instrumen yang menggunakan energi (listrik).
  5. Kontrol Lingkungan Hibrid
    Dilakukan untuk mencapai kenyamanan thermal maupun visual dengan kombinasi pasif dan aktif untuk memperoleh kinerja bangunan yang maksimal.

Iklim dan Kenyamanan Thermal

Kondisi iklim setempat menjadi tantangan dalam perancangan bangunan, Wilayah DKI Jakarta termasuk daerah tropis lembab, menurut hasil pengamatan BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) sepanjang tahun 2009 menyebutkan secara umum suhu Kota Jakarta, beriklim panas dengan rata rata suhu maksimum 34.2°C pada siang hari dan suhu minimum udara berkisar 23.7°C pada malam hari dengan suhu udara rata-rata berkisar 28.5°C seperti terlihat dalam tabel.
Pada perancangan di daerah beriklim tropis, yang memanfaatkan potensi iklim seperti di Jakarta terdapat 4 faktor yang mempengaruhi perancangan yang yaitu:
  • Radiasi panas matahari
  • Kecepatan Angin
  • Kelembaban
  • urah Hujan
clip_image002
Tabel. Kondisi suhu udara Jakarta (JDA 2010)
Perancangan sebuah bangunan bertujuan untuk menciptakan kenyamanan maksimum bagi manusia, sayangnya tidak terdapat tolak ukur yang objektif untuk mengukur suatu kenyamanan. Kekurangannya adalah fisiologi manusia memang dapat dinyatakan dengan angka-angka, tapi jiwanya tidak. Sedangkan kenyamanan timbul akibat kedua faktor tersebut. (Tri Harso Karyono. Arsitektur Kemapanan, Pendidikan, Kenyamanan, dan Penghematan Energi. PT. Catur Libra Optima, Jakarta. 1999)
Pada dasarnya ada dua aspek dalam kenyamanan yang perlu dipenuhi dalam suatu karya arsitektur, yakni kenyamanan psikis dan kenyamanan fisik. Pada kenyamanan psikis bersifat personal dan tidak terukur secara kuantitatif. Sedangkan kenyamanan fisik lebih bersifat universal. Kenyamanan fisik terdiri dari :
  1. Kenyamanan ruang (spatial comfort)
  2. Kenyamanan penglihatan (visual comfort)
  3. Kenyamanan pendengaran ( audial comfort)
  4. Kenyamanan suhu (thermal comfort)
Berdasarkan hasil penelitian kenyamanan suhu yang dilakukan oleh Tri Harso, suhu nyaman untuk kota Jakarta adalah 26,5°C. Sedangkan suhu udara kota Jakarta pada siang hari berkisar 34.2°C. Sehingga untuk mencapai kenyamanan thermal dapat dicapai dengan2 cara yaitu:
  • Mekanis, yaitu pencapaian suhu udara nyaman dengan menggunakan peralatan mekanis, seperti AC
  • Natural, yaitu pencapaian suhu udara nyaman yang dilakukan dengan cara alamiah.
Kenyamanan suhu thermis dalam perancangan sebuah bangunan, khususnya unit rawat inap rumah sakit berkaitan erat dengan kesembuhan pasien, suhu udara ruang perawatan yang ideal berkisar antara 22°C-24°C, sehingga diperlukan pengunaan pendingin ruangan (AC) untuk mencapai kenyamanan termal di dalam ruang perawatan, apabila penghawaan alami tidak dapat menunjang kebutuhan.
clip_image004
Tabel. Persyaratan Suhu Udara Rumah Sakit (Permenkes/No.1204/2004 )
Kenyamanan thermal yang dicapai melalui pengkondisian udara buatan (AC) perlu diimbangi dengan penghijauan dilingkungan sekitarnya, selain bertujuan untuk membantu menurunkan suhu udara di dalam ruangan, namun juga agar udara panas yang dihasilkan oleh AC di luar ruangan dapat dinetralisir oleh pepohonan atau penghijauan.

Energi Listrik dan Kenyamanan Thermal

Penggunaan energi pada office buildings di Jakarta antara tahun
1999 – 2000 ( Bahri, 2001) dapat dikatakan cukup tinggi, terutama pada penggunaan sistem pendinginan (AC).
clip_image006
Gambar. Diagram JSX Building In Jakarta (T.H.Karyono dan G.Bahri)
Perancangan bangunan rawat inap rumah sakit yang memberikan pelayanan kesehatan 24jam non-stop membutuhkan konsumsi enregi listrik lebih tinggi dibandingkan bangunan lain seperti kantor yang hanya digunakan pada jam tertentu.
Salah satu faktor penyebab tingginya beban energi listrik untuk pengkondisian udara disebabkan oleh radiasi panas matahari yang masuk kedalam bangunan, sehingga perancangan yang dapat memiminalisasi radiasi panas yang masuk kedalam bangunan dapat membantu penghematan beban energi listrik untuk pengkondisian udara.
Perancangan bangunan yang menggunakan pendingin udara buatan perlu memperhatikan matahari, selain berpotesni sebagai pencahayaan alami, ciri yang paling nampak dari gejala iklim tropis adalah intensitas dan pantulan matahari yang kuat. Kondisi seperti ini
menyebabkan dapat menyebabkan panas yang berlebihan pada ruangan. Selain itu juga cahaya yang terlalu kuat, juga yang memiliki kontras yang terlalu besar dirasakan tidak menyenangkan. Oleh karena itu perlu dihindari masuknya sinar matahari sore kedalam ruangan. Dan pada pagi hari sinar matahari diusahakan dapat masuk ke dalam ruangan karena sinar matahari pagi mengandung sinar ultra violet yang baik bagi tubuh dan juga mampu mematikan kuman.
Radiasi panas matahari yang masuk ke dalam bangunan berpotensi menyebabkan semakin tingginya beban penggunaan AC . Menurut Lippsmeier,1997. dalam bukunya yang berjudul Bangunan Tropis, Orientasi bangunan dan perlindungan terhadap cahaya matahari, berlaku aturan-aturan dasar sebagai berikut:
  • Sebaiknya fasade terbuka menghadap selatan atau utara agar meniadakan radiasi langsung dari cahaya matahari rendah, dan konsentrasi tertentu yang menimbulkan pertambahan panas.
  • Di iklim tropika basah diperlukan pelindung untuk semua lubang bangunan terhadap cahaya langsung dan tidak langsung. Bahkan bila perlu untuk semua bidang bangunan. Karena bila langit tertutup awan, seluruh bidang langit merupakan sumber cahaya.
Penanaman pohon pelindung akan menghalangi radiasi matahari langsung pada material keras seperti halnya atap, dinding, halaman parkir, atau halaman yang ditutup dengan material keras (beton, aspal) akan membantu menurunkan suhu lingkungan. Dari berbagai penelitian memperlihatkan bahwa penurunan suhu hingga 3ºC bukan merupakan hal yang mustahil dapat dicapai dengan cara penanaman pohon lindung disekitar bangunan.
clip_image008Gambar. Pembayangan bangunan oleh pohon
Simulasi pendinginan malam hari yang dilakukan oleh Cambridge Architectural Research Limited memperlihatkan bahwa penurunan suhu hingga 3º pada siang hari dapat dicapai pada bangunan yang menggunakan material dengan massa berat (beton,bata) apabila perbedaan suhu antara siang dan malam tidak kurang dari 8ºC (perbedaan siang dan malam di Indonesia umumnya berkisar sekitar 10ºC)
clip_image010Gambar . Penurunan Suhu dalam Ruangan
Sistem penghawaan alami dengan ventilasi silang, baik secara horisontal maupun vertikal bertujuan untuk mengendalikan akumulasi panas dan lembab di dalam ruangan.
Angin adalah udara yang bergerak. Udara yang bergerak berpotensi baik untuk bangunan, sebagai penghawaan alami dalam ruangan. Secara umum ventilasi diperlukan untuk pertukaran udara di dalam ruangan. Angin berhembus dari daerah bertekanan tinggi ke rendah. Untuk membuat udara dalam ruangan bergerak digunakan sistem cross ventilation
clip_image012
clip_image014
Gambar. Sketsa Cross Ventilation
Dalam perancangan sebuah rumah sakit, ventilasi udara alami harus menjamin aliran udara dalam ruangan dengan baik. Bila ventilasi alami tidak dapat menjamin adanya pergantian udara dengan baik, ruangan harus dilengkapi dengan penghawaan mekanis (exhauster).
Pemilihan material yang tepat menjadi salah satu upaya dalam meminimalisasi radiasi panas, selain dengan desain bukaan dan penggunaan sunshading. Material beton ringan memiliki nilai tahanan terhadap radiasi panas matahari (Thermal Ressistance) yang lebih baik dibandingkan batu bata.
Contoh perhitungan yang dilakukan, antara batubata dan beton aerasi menunjukan penghematan energi yang signifikan untuk pemakaian listrik, perbandingan dilakukan pada ruang berukuran 3m x 4m x 3m. Ruang pertama menggunakan plat atap beton ringan dan dinding blok beton aerasi (Autoclaved Aerated Concrete). Sedang ruang kedua yang sama ukurannya menggunakan plat beton konvensional dan dinding batu bata dengan plesteran semen-pasir. Pengukuran dilakukan terhadap radiasi panas yang melalui material dinding dan plat atap. Dimana energi panas dari luar akan ditahan oleh material, sehingga ruang dalam menjadi berkurang panasnya. Berkurangnya panas ini, tergantung dari kemampuan material menahan panas.
clip_image016
Tabel. Thermal Ressistance dan Pemakaian Listrik (Produsen Beton Aerasi)