Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 April 2016

Proses Pelaksanaan Pembangunan Gedung

1
Ada beberapa tahapan-tahapan dalam pelaksanaan perencanaan suatu gedung. Tahapan pelaksanaan proyek ini harus disusun sedemikian rupa mulai dari pengerjaan awal hingga finishing (jika pengerjaan proyek hingga finishing). Semuanya ini disusun didalam Time Schedule. Tahapan-tahapan dan berapa lama pengerjaan proyek tersebut disusun dahulu sebelum pelaksanaan, sehingga proyek tersebut dapat berjalan sesuai rencana dan tepat waktu.
1. Pekerjaan PembersihanPengerjaan dimulai dari pembersihan lapangan dan pemerataan permuakaan tanah seperti yang telah direncanakan. Bahkan kalau perlu dilakukan pengerukan dan pengurugan tanah, setelah itu tanah dipadatkan.
2. Pekerjaan Pondasi
Setelah tanah bersih dan rata, dilanjutkan kemudian dengan pemancangan tiang pondasi, yang biasa disebut dengan Tiang Pancang. Sebelum pemancangan ini, perlu ditentukan dahulu titik-titik pondasi tersebut. Setelah titik-titik pondasi ditentukan, barulah proses pemancangan dapat dilakukan. Proses pemancangan ini harus sangat diperhatikan, karena saat proses pemancangan, dapat terjadi berbagai kesalahan. Operator mesin pancang diharapkan terus mengontrol posisi tiang pancang. Dalamnya pondasi tiang pancang yang tertanam di dalam tanah tergantung dari jenis dan kondisi tanah tersebut, karena pondasi tiang pancang harus berdiri di atas tanah yang keras. Jika proyek berada di daerah tanah rawa, pondasi tiang pancang tertanam lebih dalam. Sebagai contoh jika proyek berada di daerah Jakarta Utara, yang merupakan tanah rawa, pondasi tiang pancang akan tertanam sangat dalam. Lain halnya jika berada di sekitar Jakarta Selatan, yang mempunyai tanah lebih keras, pondasi tiang pancang tertanam tidak terlalu dalam.
Kemudian dilanjutkan dengan pembuatan Pile Cap dan Sloof. Pile Cap ini berfungsi untuk membagi rata beban dari kolom kepada beberapa pondasi dibawahnya. Dan tiap Pile Cap ini juga dihubungkan satu sama lain oleh Sloof, sehingga semua tiang pancang mempunyai satu ikatan struktur.
3. Pekerjaan Struktur AtasSetelah pekerjaan struktur bawah, yaitu pemancangan selesai, dilanjutkan kembali dengan pengerjaan bagian struktur atas. Struktur atas terdiri dari kolom, balok dan pelat. Pengerjaan struktur atas dimulai dari pengerjaan kolom. Tapi terlebih dahulu, titik-titik kolom harus ditentukan posisinya dan dengan bantuan alat, sehingga titik-titik kolom tersebut sejajar satu sama lain.
Dalam proses pengerjaan kolom, hal yang pertama dilakukan adalah pengerjaan tulangan-tulangan kolom seperti yang telah didisain. Sebelum pengecoran kolom, terlebih dahulu dibuat bekisting yang dibentuk seperti kolom sehingga beton dapat dicor di dalamnya. Bekisting harus dibuat kokoh dan kuat, sehingga hasil cor-an diperoleh dengan baik dan bentuk kolom sesuai perencanaan. Ketika proses pengecoran harus dilakukan teliti, dan cor-an beton yang masuk itupun harus dirojok, sehingga cor beton dapat masuk semuanya sampai kebawah dan penuh mengisi bekisting.
Pengerjaan berikutnya adalah bagian balok dan pelat. Balok dan pelat memang dikerjakan bersamaan, Sama seperti pengerjaan kolom, pertama kali juga dilakukan pengerjaan bekisting. Agar waktu yang dibutuhkan seminimal mungkin, pengerjaan bekisting dan penganyaman tulangan dapat dilakukan secara bersamaan. Setelah pembuatan bekisting dan penulangan selesai, baru dilanjutkan dengan pengecoran beton. Hal yang terpenting adalah semua beton yang di-cor itu harus berada dalam satu ikatan, yang berarti proses pengecoran pelat dan balok harus serempak selesainya dan beton pun akan kering bersamaan, sehingga kekuatannya pun dalam satu ikatan. Begitu juga pengerjaan lantai berikutnya, prosesnya pun sama dengan sebelumnya. Dan selama proses pengecorannya pun juga harus dirojok, sehingga cor beton penuh mengisi bekisting.
4. Pekerjaan FinishingJika struktur telah berdiri kokoh, baru dapat dilanjutkan dengan pengerjaan finishing, yaitu pengerjaan dinding, elektrikal dan sanitasi, pemasangan keramik, pengecatan dan sebagainya. Namun, pengerjaan finishing inilah yang membutuhkan waktu paling lama, karena pengerjaannya harus hati-hati sehingga didapat bentuk yang rapi dan sesuai perencanaan.







TAHAPAN-TAHAPAN DALAM PROYEK PEMBANGUNAN

 1
1. Tahap Perencanaan (Planning)
Semua proyek konsruksi biasanya dimulai dari gagasan atau rencana dan dibangun berdasarkan kebutuhan (need). Pihak yang terlibat adalah pemilik.

2. Tahap Studi Kelayakan (Feasibility Study)
Pada tahap ini adalah untuk meyakinkan pemilik proyek bahwa proyek konstruksi yang diusulkan layak untuk dilaksanakan.
Kegiatan yang dilaksanakan :
• Menyusun rancangan proyek secara kasar dan membuat estimasi biaya
• Meramalkan manfaat yang akan diperoleh
• Menyusun analisis kelayakan proyek
• Menganalisis dampak lingkungan yang akan terjadi
Pihak yang terlibat adalah konsultan studi kelayakan atau konsultan manajemen konstruksi (MK)

3. Tahap Penjelasan (Briefing)
Pada tahap ini pemilik proyek menjelaskan fungsi proyek dan biaya yang diijinkan sehingga konsultan perencana dapat dengan tepat menafsirkan keinginan pemilik.
Kegiatan yang dilaksanakan :
• Menyusun rencana kerja dan menunjuk para perencana dan tenaga ahli
• Mempertimbangkan kebutuhan pemakai, keadaan lokasi dan lapangan, merencanakan rancangan, taksiran biaya, persyaratan mutu.
• Menyiapkan ruang lingkup kerja, jadwal, serta rencana pelaksanaan
• Membuat sketsa dengan skala tertentu sehingga dapat menggambarkan denah dan batas-batas proyek.
Pihak yang terlibat adalah pemilik dan Konsultan Perencana.

4. Tahap Perancangan (Design)
Pada tahap ini adalah melakukan perancangan (design) yang lebih mendetail sesuai dengan keinginan dari pemilik. Seperti membuat Gambar rencana, spesifikasi, rencana anggaran biaya (RAB), metoda pelaksanaan, dan sebagainya.
Kegiatan yang dilaksanakan :
• Mengembangkan ikthisiar proyek menjadi penyelesaian akhir
• Memeriksa masalah teknis.
• Meminta persetujuan akhir dari pemilik proyek
Mempersiapkan :
 Rancangan terinci
 Gambar kerja, spesifikasi dan jadwal
 Daftar kuantitas
 Taksiran biaya akhir
Pihak yang terlibat adalah konsultan perencana, konsultan MK, konsultan rekayasa nilai dan atau konsultan quantitiy surveyor.

5. Tahap Pengadaan/Pelelangan (Procurement/Tender)
Pada tahap ini bertujuan untuk mendapatkan kontraktor yang akan mengerjakan proyek konstruksi tersebut, atau bahkan mencari sub kontraktornya
Kegiatan yang dilaksanakan :
• Prakulaifikasi
• Dokumen Kontrak
Pihak yang terlibat adalah pemilik, pelaksana jasa konstruksi (kontraktor), konsultan MK.

6. Tahap Pelaksanaan (Construction)
Tujuan pada tahap ini adalah mewujudkan bangunan yang dibutuhkan oleh pemilik proyek yang sudah dirancang oleh konsultan perencana dalam batasan biaya, waktu yang sudah disepakati, serta dengan mutu yang telah disyaratkan.
Kegiatan yang dilaksanakan adalah merencanakan, mengkoordinasikan, mengendalikan semua oprasional di lapangan :
• Kegiatan perencanaan dan pengendalian adalah:
 Perencanaan dan pengendalian
 Jadwal waktu pelaksanaan
 Organisasi lapangan
 Tenaga kerja
 Peralatan dan material
• Kegiatan Koordinasi
 Mengkoordinasikan seruh kegiatan pembangunan
 Mengkoordinasi para sub kontraktor
Pihak yang terlibat adalah Konsultan Pengawas dan atau Konsultan MK, kontraktor, Sub Kontraktor, suplier dan instansi terkait.

7. Tahap Pemeliharaan dan Persiapan Penggunaan (Maintenance & Start Up)
Tujuan pada tahap ini adalah untuk menjamin agar bangunan yang telah sesuai dengan dokumen kontrak dan semua fasilitas bekerja sebagaimana mestinya.
Kegiatan yang dilakukan adalah :
• Mempersiapkan data-data pelaksanaan, baik berupa data-data selama pelaksanaan maupun gambar pelaksanaan (as build drawing)
• Meneliti bangunan secara cermat dan memperbaiki kerusakan- kerusakan
• Mempersiapkan petunjuk oprasional/pelaksanaan serta pedoman pemeliharaan.
• Melatih staff untuk melaksanakan pemeliharaan
Pihak yang terlibat adalah Konsultan Pengawas/ MK, pemakai, pemilik

Selasa, 27 Januari 2015

DEFINISI IKLIM, Pembagian Iklim, dan Pengaruh Iklim Terhadap Manusia


DEFINISI IKLIM

   Menurut buku “Arsitektur Tropis Lembab”, iklim adalah kondisi fisik lingkungan atmosferik yang merupakan karakteristik lokasi, geografi yang dipengaruhi oleh unsur-unsur suhu udara, kelembaban, angin, curah hujan, dan radiasi matahari yang saling ketergantungan satu sama lainnya.
   Dalam buku “Climate and Architecture” disebutkan bahwa iklim adalah keadaan rata-rata cuaca pada suatu daerah dipermukaan bumi yang berlangsung dalam waktu yang relatif panjang.

PEMBAGIAN IKLIM

Pembagian iklim dalam arsitektur sangat berkaitan dengan faktor kenyamanan (comfort) dalam aitan interaksi pemakai dan bangunan. Dalam hal ini iklim dapat dibagi menjadi 4 katagori utama, yaitu:
  • Iklim Dingin (sejuk) Iklim ini ditandai oleh rendahnya panas dari radiasi matahari akibat sudut matahari yang rendah.Suhu udara rata-rata 15 derajat C dibawah nol (-60 0 s/d -70 derajat F) dan sering dibarengi dengan sejumlah besar hujan. Kelembaban relatif tinggi selama musim dingin.
  • Iklim Moderat (sedang) Iklim ini ditandai dengan variasi panas yang berlebihan dan dingin yang berlebihan pula, namun tak begitu kontras. Suhu rata-rata pada musim dingin 15 derajat C dibawah nol dan suhu terpanas sekitar 25 derajat C. 
  • Iklim Panas Lembab Iklim ini ditandai dengan variasi panas yang berlebihan serta banyak uap air. Serta Suhu rata-rata diatas 20 derajat C dengan kelembaban relatif sekitar 80% - 90%. 
  • Iklim Panas Kering Iklim ini ditandai dengan panas yang berlebihan, kurangnya uap air dan udara kering. Suhu udara rata-rata 25 derajat C, suhu terpanas dapat mencapai 45 derajat C, sedangkan suhu terdingin dapat mencapai 10 derajat C disertai dengan kelembaban relatif yang sangat rendah. 

      PENGARUH IKLIM TERHADAP MANUSIA

      Rancangan untuk pengendalian iklim dan penghematan energi dapat memberikan suatu lingkungan yang menarik bagi manusia. Manusia sebagai pemakai bangunan membutuhkan lingkungan yang serasi, sesuai baginya guna untuk aktifitasnya. Dalam hal ini interaksi bangunan dan iklim sekelilingnya merupakan hal yang penting hingga terciptanya lingkungan yang dimaksud. Pengaruh iklim terhadap manusia dapat ditinjau dalam kaitan sebagai berikut: 

      • Iklim dan Ekologi Tampilan secara sadar dihasilkan oleh acuan yang timbul. Keadaan ini dapat dilihat pada sosial budaya, seperti dalam cara berpakaian dan perancangan bangunan-bangunan tradisional masing-masing daerah.Dalam hal ini bangunan merupakan unsur utama yang menjadi perubahan iklim lingkungan di luar menjadi iklim lingkungan di dalam. Ini berarti bahwa bangunan ikut membentuk sistem keseimbangan ekosistem. 

      • Iklim dan Budaya Budaya manusia sangat tergantung pada kemampuan manusia untuk berkomunikasi satu sama lain dan mengkoordinir aktifitasnya. Iklim mempengaruhi pola aktifitas baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu iklim mempunyai hubungan langsung dengan perkembangan budaya. Pengaruh ini terlihat dengan kenyataan bahwa iklim mampu memberikan kontak diantara manusia dan lingkungan sosial dan budaya. 

      • Iklim dan Bangunan Berdirinya bangunan di permukaan bumi terus bertambah secara bertahap. Manusia beradaptasi dengan alam melalui bangunan dengan cara: 

      1. Mencari lokasi yang benar dan sesuai bagi huniannya.
      2. Mencari orientasi yang benar 
      3. Membuat bangunan yang benar 
      4. Membuat penghuninya nyaman 
        Sejak dahulu hingga sekarang manusia terus belajar mengatur interaksi bangunannya dengan kondisi iklim sekelilingnya yang sesuai untuk kehidupannya. Oleh kerena itu bangunan yang berdasarkan penghematan energi memerlukan pengetahuan yang baik mengenai iklim setempat. 

      • Iklim dan Kenyamanan Iklim lingkungan diubah (modified) oleh bangunan menjadi lingkungan dalam yang mempengaruhi langsung kenyamanan manusia sebagai pemakai bangunan. Iklim didalam ruangan yang baik dapat membuat manusia beraktifitas dengan baik sesuai dengan kehendaknya. Oleh karena itu ada 2 persyaratan utama dari iklim dalam ruangan, yaitu :

      1. Tidak menyebabkan tekanan (stress) yang mungkin dapat merusak sistem ekologi manusia.
      2. Memberikan rasa aman pada manusia dan lingkungan yang berhubungan dengan aktifitasnya.



      Selasa, 20 Januari 2015

      ARSITEKTUR EKOLOGI

         Istilah ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Emst Haeckel, ahli dari ilmu hewan pada tahun 1869 sebagai ilmu interaksi dari segala jenis makhluk hidup dan lingkungan. Arti kata ekologi dalam bahasa yunani yaitu “oikos” adalah rumah tangga atau cara bertempat tinggal dan “logos” bersifat ilmu atau ilmiah. Ekologi dapat didefinisikan sebagai ilmu yang mempelajari tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan lingkungannya (Frick Heinz, Dasar-dasar Ekoarsitektur, 1998).

         Arsitektur yang ekologis akan tercipta apabila dalam proses berarsitektur menggunakan pendekatan desain yang ekologis (alam sebagai basis desain). Proses pendekatan desain arsitektur yang menggabungkan alam dengan teknologi, menggunakan alam sebagai basis design, strategi konservasi, perbaikan lingkungan, dan bisa diterapkan pada semua tingkatan dan skala untuk menghasilkan suatu bentuk bangunan, lansekap, permukiman dan kota yang revolusioner dengan menerapkan teknologi dalam perancangannya. Perwujudan dari desain ekologi arsitektur adalah bangunan yang berwawasan lingkungan yang sering disebut dengan green building.




      A. Prinsip-prinsip ekologi sering berpengaruh terhadap arsitektur (Batel Dinur, Interweaving Architecture and Ecology – A theoritical Perspective). Adapun prinsip-prinsip ekologi tersebut antara lain:

      a. Flutuation
      Prinsip fluktuasi menyatakan bahwa bangunan didisain dan dirasakan sebagai tempat membedakan budaya dan hubungan proses alami. Bangunan seharusnya mencerminkan hubungan proses alami yang terjadi di lokasi dan lebih dari pada itu membiarkan suatu proses dianggap sebagai proses dan bukan sebagai penyajian dari proses, lebihnya lagi akan berhasil dalam menghubungkan orang-orang dengan kenyataan pada lokasi tersebut.

      b. Stratification
      Prinsip stratifikasi menyatakan bahwa organisasi bangunan seharusnya muncul keluar dari interaksi perbedaan bagian-bagian dan tingkat-tingkat. Semacam organisasi yang membiarkan kompleksitas untuk diatur secara terpadu.

      c. Interdependence (saling ketergantungan)
      Menyatakan bahwa hubungan antara bangunan dengan bagiannya adalah hubungan timbal balik. Peninjau (perancang dan pemakai) seperti halnya lokasi tidak dapat dipisahkan dari bagian bangunan, saling ketergantungan antara bangunan dan bagian-bagiannya berkelanjutan sepanjang umur bangunan.

      Pola Perencanaan Eko-Arsitektur selalu memnfaatkan alam sebagai berikut :
      Dinding, atap sebuah gedung sesuai dengan tugasnya, harus melidungi sinar panas, angin dan hujan.
      Intensitas energi baik yang terkandung dalam bahan bangunan yang digunakan saat pembangunan harus seminal mungkin.

      Bangunan sedapat mungkin diarahkan menurut orientasi Timur-Barat dengan bagian Utara-Selatan menerima cahaya alam tanpa kesilauan.

      Dinding suatu bangunan harus dapat memberi perlindungan terhadap panas. Daya serap panas dan tebalnya dinding sesuai dengan kebutuhan iklim/ suhu ruang di dalamnya. Bangunan yang memperhatikan penyegaran udara secara alami bisa menghemat banyak energi.


      B. Dasar – Dasar Ekologi Arsitektur
      Dalam eko-arsitektur terdapat dasar-dasar pemikiran yang perlu diketahui, antara lain.

      1. Holistik
      Dasar eko-arsitektur yang berhubungan dengan sistem keseluruhan, sebagai satu kesatuan yang lebih penting dari pada sekedar kumpulan bagian.

      2. Memanfaatkan pengalaman manusia
      Hal ini merupakan tradisi dalam membangun dan merupakan pengalaman lingkungan alam terhadap manusia.

      3. Pembangunan sebagai proses dan bukan sebagai kenyataan tertentu yang statis.

      4. Kerja sama antara manusia dengan alam sekitarnya demi keselamatan kedua belah pihak.


      Selasa, 11 November 2014

      SUSTAINABLE DEVELOPMENT

      PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
      Implementasi Pada Bangunan Dengan Fungsi Rumah dan Perkantoran

      A. Pengertian Sustainable Development
      Pengertian sustainable development atau pembangunan berkelanjutan menurut beberapa sumber antara lain :
      1. Menurut Brundtland dari PBB (1987), sustainable development adalah suatu proses pembangunan baik itu berupa lahan, kota, bisnis, masyarakat dan sebagainya, yang berprinsip memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan. Dalam mencapai pembangunan berkelanjutan terdapat salah satu factor yang harus dihadapi yaitu bagaimana memperbaki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan social. 

      2. Berdasarkan laporan PBB, KTT Dunia 2005. Pembangunan berkelanjutan terdiri dari tiga tiang utama yaitu ekonomi, sosial, dan lingkungan yang saling bergantung dan memperkuat. 

      3. Dalam majalah Sustainable Construction dijelaskan, sustainable evelopmentmencakup semua segi kehidupan, mulai dari kebijakan politik pemerintah, strategi bisnis, sampai gaya hidup, tidak hanya permulaan tapi juga proses dan hasil akhir. Dimana pembangunan berkelanjutan bersifat kompleks dan harus menerapkan system interdisipliner. 

      4. Menurut Emil Salim, Pembangunan berkelanjutan adalah suatu proses pembangunan yang mengoptimalkan manfaat dari sumber daya alam, sumber daya manusia, dengan menyerasikan sumber alam dengan manusia dalam pembangunan. 


      5. Menurut Sofyan Effendi : Pembangunan berkelanjutan adalah suatu proses pembangunan yang pemanfaatan sumber dayanya, arah invesinya, orientasi pengembangan teknologinya dan perubahan kelembagaannya dilakukan secara harmonis dan dengan amat meperhatikan potensi pada saat ini dan masa depan dalam pemenuhan kebutuhan dan aspirasi masyarakat. Secara konsepsual, pembangunan diartikan sebagai transformasi progresif terhadap struktur sosial, ekonomi dan politik untuk meningkatkan kepastian masyarakat Indonesia dalam memenuhi kepentingannya pada saat ini tanpa mengorbankan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kepentingan mereka. 

      B. Teori Dasar Sustainable Development atau Pembangunan Berkelanjutan
      Ide pokok atau teori dasar pembangunan berkelanjutan menurut Emil Salim antara lain :
      1. Proses pembangunan harus berlangsung secara berlanjut, terus menerus ditopang oleh sumber daya alam, kualitas lingkungan dan manusia yang berkembang secara berlanjut.

      2. Sumber alam baik itu udara, air dan tanah memiliki ambang batas dalam penggunaannya sehingga berpengaruh pada kualitas dan kuantitasnya. Hal ini dimaksudkan berkurangnya kemampuan sumber alam tersebut untuk menopang pembangunan secara berlanjut, sehingga menimbulkan gangguan pada keserasian sumber alam dengan daya manusia.

      3. Kualitas lingkungan berhubungan langsung dengan kualitas hidup. Semakin baik kualitas lingkungan maka semakin positif pengaruhnya pada kualitas hidup.

      4. Pembangunan berkelanjutan mengandalkan solidaritas transgenerasi yang memungkinkan generasi sekarang meningkatkan kesejahteraannya tanpa mengurangi kesejahteraan untuk generasi masa depan.

      C. Implementasi Pembangunan Berkelanjutan Pada Bangunan Rumah dan Perkantoran 
      Dalam mendesain bangunan berkelanjutan atau sustainable building harus memperhatikan tiga indkator yaitu indikator sosial, ekonomi dan lingkungan. Dan pada kenyataannya penerapan pembangunan berkelanjutan, dapat dibantu dengan menggunakan alat bantu untuk mengukur dalam memberi penilaian dari masing-masing kriteria. Beberapa kriteria tersebut bisa dilihat pada tabel dibawah. 
      1. Kenyamanan Pengguna bangunan, pendayagunaan komponen lokal demi memajukan pendapatan lokal atau daerah setempat, penggunaan air.

      2. Akses dalam bangunan, efsiensi bangunan, penggunaan energi.

      3. Kemudahan akses menuju lokasi bangunan, fleksibilitas dalam tata ruang dalam dan luar bangunan, pegolahan limbah.

      4. Partisipasi dan control, biaya-biaya yang keluar sejak proyek bangunan akan dimulai, pemilihan material dan komponen bahan.

      5. Segala hal yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan, dan keselamatan, alokasi total dana yang dipakai untuk membangun dan situasi site.
      Dalam penilaiannya dua objek yang digunakan sebagai contoh yaitu Sharon’s House dan Gedung Perkantoran Wonokoyo menggunakan alat pengukuran yaitu SCAT (Sustainable Construction Assesment Tools) dengan penilaian pada indikator sosial, ekonomi dan lingkungan sesuai dengan tabel diatas. Kedua studi objek ini diperoleh berdasarkan workshop Sustainable Construction, kerjasama antara Rumah Ide dengan PT. Holcim Indonesia. Penjelasan kedua objek tersebut antara lain : 

      a. Sharon’s House
      Sharon’s House merupakan salah satu bangunan rumah tinggal yang teretak di daerah Bantul, Yogyakarta. Berdasarkan penilaian dari SCAT bangunan ini masuk kedalam kategori bangunan berkelanjutan.
      • Dintinjau dari nilai sosial, bangunan ini telah memenuhi standar kenyamanan dari penghuni, penggunaan pencahayaan alami secara optimal, ventilasi yang baik serta memenuhi kenyamanan termal. Bangunan ini jauh dari kebisingan serta lokasi bangunan yang mudah diakses angkutan umum.
      • Ditinjau dari nilai ekonomi, nilai keberlanjutan bangunan ini bisa dilihat dengan pemanfaatan material bangunannya yaitu dengan memanfaatkan material yang serba lokal. Misalnya pemakaian kayu kelapa untuk strukturnya, tegel lantai dan penggunaan genteng lokal.
      • Ditinjau dari nilai lingkungan, lahan yang digunakan dalam pembuatan rumah ini merupakan rumah lama yang kondisinya sudah tidak layak. Namun beberapa dinding masih tetap dipergunakan kembali. Adanya kondisi ruang luar yang tetap alami, pohon-pohon yang ada tetap dibiarkan tumbuh dan sekaligus sebagai filter cahaya.
      Penilaian Sharon’s House sesuai dengan SCAT (Sustainable Construction Assessment Tools) berdasarkan kriteria social, ekonomi dan lingukungan. Berdasarkan tiga kriteria tersebut Sharon’s House termasuk kedalam bangunan berkelanjutan. Dengan nilai dari masing-masing kriteria antara lain : kriteria sosial 4.0, kriteria ekonomi 4.4, dan nilai lingkungan dengan jumlah 3.5. Nilai secara keseluruhan adalah 3.9, dan bangunan ini dikategorikan sebagai bangunan yang telah memenuhi standar pembangunan berkelanjutan.


      b. Wonokoyo Building
      Contoh bangunan kedua adalah bangunan dengan fungsi sebagai perkantoran yang berlokasi di Surabaya. Bangunan Wonokoyo ini merupakan salah satu bangunan yang dikategorikan sebagai gedung hemat energi di Indonesia. Beberapa kategori yang bisa dilihat dari masing-masing nilai sustainable construction antara lain :
      • Dilihat dari nilai sosial. Pada sumber yang diperoleh sangat sedikit membahas tentang psikologis dari pemakai bangunan. Namun, secara umum bangunan ini telah memenuhi criteria kenyamanan termal karena telah memperhatikan bukaan serta sudah mampu memasukkan cahaya matahari ke dalam gedung sehingga penerangan untuk siang hari tidak diperlukan. Tidak hanya itu penggunaan jendela-jendela juga memungkinkan pemakai bangunan untuk memperoleh udara luar. Lokasi bangunan ini terletak di daerah strategis sehingga memudahkan pengguna sekaligus orang umum untuk mencapai gedung dengan transportasi publik. 

      • Nilai ekonomi. Sebagian besar komponen dan material yang digunakan merupakan produk lokal. Efisiensi bangunan termasuk kategori bangunan dengan tingkat efisiensi cukup tinggi dimana dilakukan denganmengalokasikan satu lantai untuk satu divisi. Banguna ini terkesan fleksibel, tidak menggunakan partisi permanen, memanfaatkan partisi yang bisa dibongkar sehingga memudahkan untuk difungsikan dengan kebutuhan yang lainnya. Dari segi perawatannya, pembersihan kaca banguna dilakukan gondola yang memakai rel.

      • Nilai lingkungan. Efisiensi energi dicapai melalui pemanfaatan potensi cahaya matahari sebagai penerang alami pada jam-jam kerja. Namun tetap menggunakan lampu pada saat cuaca mendung. Namun bangunan ini juga memanfaatkan penghawaan buatan yaitu dengan menggunakan AC, dan pada saat jam tertentu AC ini akan mati secara otomatis. Gedung perkantoran ini menghadap ke arah selatan sehingga paparan cahaya matahari tidak tidak langsung masuk ke dalam bangunan. 
      Hasil yang diperoleh berdasarkan perhitungan SCAT terhadap bangunan Wonokoyo, antara lain : nilai sosial 4.7, nilai ekonomi dengan nilai 4.4, dan nilai lingkungan dengan nilai 3.0. Dan bangunan ini diklasifikasikan sebagai bangunan berkelanjutan dan telah sesuai dengan syarat atau ketentuan sustainable building. 


      D. Kesimpulan 
      Dari penjelasan tentang Sustainable Development beserta dengan contoh diatas, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut.
      1. Pembangunan berkelanjutan merupakan pembangunan yang memperhatikan kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan kebutuhan generasi yang akan datang. Dengan memperimbangkan kriteria sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dimana secara keseluruhan Sustainable development merupakan suatu ilmu interdisiplener yang sangat kompleks dan saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga terjadi keharmonisan dan keserasian antara sumber daya alam dengan sumber daya manusia.

      2. Sustainable development ditopang oleh sumber daya alam, kualitas lingkungan dan manusia dari generasi ke generasi selanjutnya. Kemampuan sumber daya alam berupa kualitas dan kuantitasnya berpengaruh pada pembangunan berkelanjutan terkait dengan keserasian dengan alam dan manusia. 

      3. Pembangunan berkelanjutan memperhatikan kesejahteraan generasi saat ini tanpa mengurangi kesejahteraan untuk generasi masa depan.

      4. Indikator yang dipergunakan untuk mengetahui suatu bangunan termausk kategori bangunan bekelanjutan ataupun tidak dapat diketahui dari tiga indikator yaitu indikator sosial yang terdiri dari kenyamanan pengguna bangunan, akses dalam bangunan dan menuju lokasi bangunan, partisipasi dan kontrol serta segala hal yang berkaitan dengan kesehatan, pendidikan dan keselamatan. Indikator yang kedua adalah indicator ekonomi yaitu terdiri dari pendayagunaan komponen lokal, efisiensi bangunan, fleksibilitas tata ruang dalam dan luar bangunan, biaya proyek, dan alokasi dana yang dipakai untuk membangun. Dan yang ketiga adalah indikator lingkungan yaitu penggunaan air, energi, pengolahan limbah, pemilihan material dan bahan serta situasi site. 

      5. Pembangunan berkelanjutan bisa diterapkan pada desain bangunan dengan tetap memperhatikan kriteria sosial, ekonomi, dan lingkungan. Hal ini dibuktikan pada dua bangunan yaitu Sharon’s House dan Wonokoyo buildings, kedua bangunan ini merupakan bangunan yang telah lolos dalam perhitungan SCAT (Sustainable Construction Assessment Tools), yang dipergunakan untuk mengetahui apakah suatu bangunan termasuk bangunan berkelanjutan atau tidak. 

      E. Referensi
      Abdurrahman, (2003), Pembangunan Berkelanjutan dalam Pengelolaan Sumber daya Alam Indonesia. Seminar Pembangunan Hukum Nasional VIII. 
      Akmal Imelda Studio Architecture, (2007), Sustainable Constuction, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.
      Eric T. Clark. The Manifestation of Sustainable Architecture in Urban Zambia. Paper seminar 
      Suryandari Putri, Kebutuhan Pengembangan Material Substitusi di Bidang Perumahan dan Pemukiman di Indonesia yang Berkelanjutan. Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Budi Luhur Jakarta.


      ILMU LINGKUNGAN (ENVIRONMENTAL SCIENCE) DALAM ARSITEKTUR

      A. Pengertian Ilmu Lingkungan atau Environmental Science
      Ilmu lingkungan atau Environmental Science (ES) merupakan suatu ilmu yang mempelajari interaksi antara komponen – komponen fisik, kimia dan biologi yang ada di lingkungan serta merupakan suatu disiplin ilmu yang saling melengkapi dengan ilmu alam, ilmu teknik dan ilmu sosial. Dalam keterkaitannya dengan Ilmu lingkungan, ESberfokus pada polusi dan penurunan kualitas lingkungan yang berhubungan dengan aktivitas manusia yang berpengaruh pada perubahan biologis dan lingkungan berkelanjutan, serta melibatkan aspek ilmu ekonomi, ilmu hukum dan ilmu – ilmu sosial. Keseluruhan aspek ilmu tersebut merupakan satu kesatuan yang saling berhubungan dan berpengaruh pada lingkungan.


      Ilmu lingkungan dalam konteks arstitektur erat kaitannya dengan istilah Ecological Designatau Arsitektur Ekologis, dimana dalam setiap perencanaan arsitektur selalu mempertimbangkan kaidah atau aspek lingkungan yang ada untuk dapat memberikan kontribusi di dalam pembangunan sehingga mampu meminimalkan dampak negatif dalam pembangunan demi kelestarian lingkungan dan alam tetap terjaga. Dalam hal ini konteks ilmu lingkungan tidak lepas dari prilaku manusia itu sendiri sebagai suatu komponen lingkungan yang paling dominan karena manusia senantiasa mengolah, mengambil dan mengembangkan sesuatu yang ada di alam itu sendiri. Untuk mencapai keseimbangan lingkungan tentu diperlukan kesadaran dari manusia agar merasa memiliki dan mencintai segenap makhluk hidup dan alam lingkungannya sebagai tempat hidupnya.

      Konsep arsitektur ekologis mengandung bagian – bagian, antara lain : arsitektur biologis yaitu arstektur kemanusiaan yang memperhatikan kesehatan, arsitektur alternatif yaitu pemikiran akan penggunaan energi alternatif lainnya namun tetap memperhatikan kaidah lingkungan, arsitektur matahari yaitu arsitektur yang memanfaatkan energi surya, arsitektur bionik dikaitkan dalam bidang teknik sipil dan konstruksi yang memperhatikan kesehatan manusia, serta biologi pembangunan.


      B. Isu – Isu Tentang Perusakan Lingkungan Dewasa Ini

      Beberapa isu – isu tentang perusakan lingkungan yang sedang gencar – gencarnya dibahas oleh berbagai pihak yang peduli dan prihatin akan kondisi lingkungan saat ini sedang menjadi topik dunia. Berbagai jenis revolusi dan gerakan cinta lingkungan telah digerakkan untuk menjadi sesuatu yang benar – benar dipikirkan untuk masa depan. Seperti contoh Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI), Green Peace, Green Light, Green Movie Community, dan sebagainya. Berbagai inti permasalahan lingkungan digali dari segi sosial, politik, hukum dan ekonomi. Karena keseluruhan aspek ilmu menimbulkan sebab dan akibat yang saling berhubungan dengan lingkungan. Dalam Majalah Sustainable Constuction dijelaskan apa saja yang menjadi penyumbang perusakan lingkungan, dantaranya :
      1. Pertambahan jumlah populasi manusia dimuka bumi
      Jumlah penduduk yang terus bertambah menyebabkan semakin sesaknya populasi penduduk dunia, hal ini menyebabkan bumi tidak sanggup lagi menampung ledakan populasi yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Kepadatan penduduk menyebabkan kebutuhan konsumsi semakin tinggi. Berbagai rentetan sosial seperti pengangguran, kelaparan, serta penyakit – penyakit lain yang timbul akibat lingkungan pemukiman yang tidak layak huni. 

      2. Eksploitasi dan konsumsi sumber daya yang berlebihan
      Keinginan manusia untuk meningkatkan kenyamanan hidup menyebabkan mereka selalu ingin mengambil sumber daya alam secara terus – menerus, selain itu dituntut pula dengan kecepatan yang semakin lama semakin tinggi. Adanya teknologi menyebabkan perubahan gaya hidup, dan sekarang manusia tidak puas memiliki hunian secukupnya. Hal ini berdampak pada pemikiran mereka untuk menggunakan tanah semaksimal mungkin untuk bangunan karena harga tanah yang semakin menjulang tinggi. Lama kelamaan ruang terbuka hijau akan semakin berkurang. 

      3.Sumber daya yang tak terbaharukan
      Gas bumi dan biji besi merupakan dua contoh sumber daya yang tak terbaharukan. Kayu merupakan salah satu sumber daya yang sangat lama terbaharukan dan kini kayu menjadi material yang tidak sustainable karena tidak mudah terbaharukan. Eksploitasi besar-besaran menyebabkan kita kehabisan sumber daya dengan sangat cepat. Kasus kebakaran, pencurian dan penebangan pohon mengakibatkan hutan tidak sanggup lagi menyerap CO2 dan mengolahnya menjadi H2O. 

      4. Proses pengolahan dan transportasi
      Proses pengolahan dan pengangkutan bahan mentah yang bersumber dari alam menyebabkan perlunya energi dan bahan bakar yang sangat banyak. Yang pada akhirnya berakibat timbulnya emisi atau gas buangan hasil proses pembakaran energi. 

      5. Pemanasan Global
      Konsumsi manusia dalam pengambilan sumber daya, penggunaan transportasi, kapadatan penduduk, pembabatan hutan dan lain sebagainya menyebabkan meningkatnya konsentrasi CO2. Atmosfer di lapisan bumi menjadi menipis dan semakin tebalnya kadar CO2 di udara, sehingga panas matahari terperangkap yang kemudian menyebabkan terganggunya pelepasan panas dari bumi ke luar atmosfer. Hal inilah disebut dengan pemanasan global atau Global Warming, dengan efek yang menyebabkan perubahan iklim yang cukup drastis. 


      6. Konstruksi, menyumbang kerusakan lingkungan terbesar.
      Kontribusi bidang konstruksi terhadap kerusakan alam antara lain : dimulai dari pengambilan material dari berbagai sumber terkait dengan proses pengangkutannya, pengolahan material – material yang akan dipergunakan, pendistribusian material jadi dari sumbernya ke pemakai, proses konstruksi itu sendiri, pengambilan lahan untuk bangunan, dan konsumsi energi yang dimulai saat bangunan dipakai. Secara global sector konstruksi mengonsumsi 50% sumber daya alam, 40% energi, dan 16% air. Konsruksi juga menyumbangkan emisi CO2 terbanyak, yaitu 45%. Hal ini menandakan bahwa dalam pembangunan kita tidak lagi meningkatkn kualitas hidup kita, sebab kerusakan alam yang terjadi sebagai akibatnya sama dengan penurunan kualitas manusia. Dalam hal ini untuk pemecahan bidang konstuksi sangat diperlukan langkah yang bijaksana untuk menerapkan konstruksi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dimana konstruksi tersebut berusaha meminimalisasi kerusakan yang ada di alam.
      Dalam pengambilan material untuk pembangunnan diperlukan pemikiran transportasi untuk meminimalisasi perusakan lingkungan.
      Dampak daripada konstruksi menurut data-data dari Alex Bueci dalam workshop PT. Holcim Indonesia ditampilkan bahwa konstruksi mengonsumsi 50% hasil alam, 40% energi, dan 16% air. Limbah akibat konstruksi baik untuk pembangunan dan peruntuhan jauh lebih banyak dibandingkan gabungan volume seluruh limbah rumah tangga. Dan secara keseluruhan kegiatan konstruksi menyumbangkan 45% emisi CO2, melebihi gabungan antara transportasi dan industry lain. 



      C. Beberapa hal yang harus diperhatikan untuk menuju Arsitektur Berwawasan Lingkungan 

      Dalam buku Dasar–dasar Eko-arsitektur dijelaskan bagaimana konsep arsitektur berwawasan lingkungan serta kualitas konstruksi dan bahan bangunan untuk rumah sehat dan dampaknya terhadap kesehatan manusia. Dalam penerapannya, alam merupakan suatu pola perencanaan eko-arsitektur. Lingkungan alam sebagai makrokosmos dan lingkungan buatan (rumah) sebagai mikrokosmos. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam pola perencanaan eko arsitetur antara lain : 
      1. Penyesuaian terhadap lingkungan alam setempat. Perencanaan pembangunan hendaknya mmperhatikan orientasi terhadap sinar matahari, arah angin, perubahan suhu siang dan malam serta penggunaan tumbuhan dan air sebagai pengatur iklim. Hal ini dilakukan sebagai suatu usaha untuk menghemat energi. 

      2 Menghemat sumber energi alam yang tidak dapat diperbaharui dan mengirit penggunaan energi. Beberapa hal yang bisa dilakuan antara lain dengan meminimalisasi penggunaan energi untuk alat pendingin, optimalisasi pada penggunaan sumber energi yang tidak dapat diperbaharui, menggunakan energi alternatif dan energi surya. 

      3. Memelihara sumber lingkungan udara, tanah, dan air yaitu dengan memperhatikan berbagai aspek bahan pencemar yang bisa mengganggu peredaran air, kebersihan udara dan tanah. 

      4. Memelihara dan memperbaiki peredaran alam. Setiap aktivitas manusia harus memperhatikan semua ekosistem yang harus dimengerti sebagai suatu peredaran di alam dan manusia tidak boleh merusaknya. Contoh : dalam kegiatan penggunaan bahan bangunan harus memperhatikan rantai bahannya sehingga tetap berfungsi juga sebagai peredaran. 

      5. Mengurangi ketergantungan pada sistem pusat energi (listrik, air) dan limbah (air limbah, sampah). 

      6. Penghuni ikut serta secara aktif pada perencanaan pembangunan, dan pemeliharaan perumahan. 

      7. Tempat kerja dan pemukiman dekat. Hal ini dimaksudkan agar akses atau pencapaian dari rumah ke tempat kerja bisa dilakukan dengan berjalan kaki atau bersepeda sehingga mampu mengurangi emisi atau gas buangan yang terlalu banyak dari kendaraan bermotor.
      8. Kemungkinan penghuni menghasilkan sendiri kebutuhannya sehari – hari. 

      9. Menggunakan teknologi sederhana yaitu dapat dilakukan dengan cara menggunakan teknologi mudah dirawat dan dipelihara serta sesuai dengan teknologi pertukangan.

      Konsep arsitektur ekologis adalah memperhatikan prinsip-prinsip ekologis pada perencanaan lingkungan buatan. Seperti pada gambar di dibawah, peredaran yang ada di lingkungan baik berupa pemanfaatan sinar matahari, udara, air hujan dan tanaman dimanfaatkan sebaik mungkin untuk perencanaan suatu bangunan.

      Referensi 
      Frick H, FX Bambang Suskiyanto, (1998), Dasar-dasar Eko-arsitektur, Penerbit Kanisius, Yogyakarta. 
      Akmal Imelda Studio Architecture, (2007), Sustainable Constuction, Penerbit Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 
      Armansyah A & Munggoro W, (2008), Menjadi Environmentalis Itu Gampang!, Penerbit WALHI, Jakarta. 
      Wanda Widigdo C, Pendekatan Ekologi pada Rancangan Arsitektur, sebagai upaya mengurangi Pemanasan Global, Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan, UK Petra. 


      Arsitektur Modern Indonesia

      Perkembangan Arsitektur Modern Indonesia


      arsitektur modern indonesia

         Di masa modern saat ini, rumah merupakan tempat bernaung dan tempat istirahat yang menjadi impian dan bagian dari investasi dari waktu ke waktu. Dari segi keuangan, membangun sebuah rumah tentunya akan memerlukan dana yang tidak kecil dan membutuhkan waktu yang tidak singkat. Untuk itu maka arsitektur modern Indonesia saat ini juga mengalami perubahan yang cukup maju. Dari segi bentuk anda bisa melihat model bangunan yang lebih sederhana namun tetap bisa menjadikan fungsi ruang tetap terjaga maksimal. Hal ini berlaku pada setiap gaya rumah minimalis ataupun model rumah modern.Berbicara mengenai arsitektur tentunya akan sangat mencakup waktu yang tidak singkat dan membutuhkan proses yang sangat lama hingga kini bisa berkembang menjadi ke bentuk modern minimalis ataupun bentuk klasik minimalis. Secara umum,Arsitektur modern Indonesia kini sangat berbeda dibandingkan dengan model karya arsitektur tradisional Indonesia. Bila dahulu kala berbagai jenis rumah tradisional masih menggunakan unsur-unsur tradisional maupun material yang alami, kini mungkin anda bisa melihat berbagai perubahan alternatif dalam teknik pembuatan rumah modern saat ini.

         Di zaman yang serba instant, gaya hidup orang kini juga mengalami banyak perubahan. Setiap kegiatan dalam ruangan kini diharapkan dapat dilakukan dengan lebih efisien dan cepat. Untuk ruang tidur, maupun ruang lainnya anda akan bisa mencoba memberikan beberapa dekorasi yang serba minimalis sehingga setiap kegiatan anda di ruangan tersebut dapat dilakukan dengan lebih leluasa. Untuk pembatas ruangan juga kini mulai lebih dihilangkan dengan beberapa dinding permanen yang bisa menutup pandangan anda dari dalam ruangan.

      Ingin mencari Jasa Arsitek Bali untuk mebangun rumah minimalis anda? Hubungi kami dan anda akan segera dapat mewujudkan rumah impian anda dengan harga yang terjangkau.


      Jumat, 09 Mei 2014

      Bangunan Antartika

      Igloo (bahasa Inuit: iglu, Inuktitut syllabics: ᐃᒡᓗ, "rumah", bentuk jamak: iglooit atau igluit, tapi dalam bahasa Inggris umumnya igloo), atau snowhouse, adalah jenis tempat penampungan yang dibangun dari salju, awalnya dibangun oleh Inuit. Iglu adalah Inuit kata untuk rumah atau rumah yang dibangun dari bahan apapun, dan ini tidak terbatas hanya untuk snowhouses, tapi juga meliputi tenda tradisional, persetan rumah, rumah terbuat dari kayu apung dan bangunan modern.






      Ketika mengacu ke snowhouse, iglo adalah tempat penampungan dibangun dari balok-balok salju, pada umumnya dalam bentuk kubah. Walaupun igloo biasanya terkait dengan semua Inuit, mereka sebagian besar dibangun oleh orang-orang dari Kanada 's Arktik Tengah dan Greenland' s Thule daerah. 

      Inuit lain orang cenderung menggunakan salju untuk melindungi rumah-rumah mereka yang terdiri dari tulang ikan paus dan kulit. Salju digunakan karena kantong-kantong udara yang terperangkap di dalamnya membuat sebuah insulator. Di luar, suhu dapat serendah -45 ° C (-49,0 ° F), tetapi di dalam suhu dapat berkisar dari -7 ° C (19 ° F) hingga 16 ° C (61 ° F) ketika dihangatkan oleh panas tubuh sendiri.


      Salju yang digunakan untuk membangun igloo harus memiliki kekuatan struktural yang cukup untuk dipotong dan ditumpuk dalam cara yang sesuai. Salju terbaik untuk menggunakan untuk tujuan ini adalah salju yang telah ditiup angin, yang dapat digunakan untuk kompak dan berpaut dari kristal es. Meninggalkan lubang di salju di mana blok dipotong dari biasanya digunakan sebagai bagian bawah tempat penampungan. Kadang-kadang, sebuah terowongan pendek dibangun di pintu masuk untuk mengurangi hilangnya angin dan panas ketika pintu dibuka. Karena salju yang hebat sifat isolasi, dihuni iglo secara mengejutkan nyaman dan hangat di dalamnya. Dalam beberapa kasus satu balok es dimasukkan untuk memungkinkan cahaya ke dalam igloo.





      Pandangan dr samping igloo diagram; membuka ke kanan, jendela opsional mungkin terdiri dari balok es. Kuning gelap menandakan tanah (yang bagaimanapun, juga mungkin es atau salju).




      Arsitektur, yang Igloo gunakan unik karena berupa kubah yang dapat diangkat keluar dari blok independen bersandar pada satu sama lain dan dipoles agar sesuai tanpa struktur pendukung tambahan selama konstruksi. Igloo, jika dibangun dengan benar, akan mendukung berat satu orang yang berdiri di atas atap. Juga dalam tradisional Inuit panas dari kudlik (qulliq) (batu lampu) menyebabkan bagian dalam sedikit mencair, sehingga dapat membangun sebuah lapisan es dan berkontribusi terhadap kekuatan igloo. [5] The tidur Platform daerah mengangkat dibandingkan dengan di mana satu masuk ke dalam igloo. Karena udara panas naik dan udara dingin mengendap, area pintu masuk akan bertindak sebagai perangkap dingin sedangkan area tidur akan terus panas apa pun yang dihasilkan oleh kompor, lampu atau badan panas.




      Ada tiga jenis tradisional igloo, semua ukuran yang berbeda dan semua digunakan untuk berbagai tujuan :

      1. Ukuran terkecil dibangun sebagai tempat penampungan sementara, biasanya hanya digunakan untuk satu atau dua malam. Biasanya dibangun dan digunakan selama perjalanan berburu, sering pada terbuka lautan es.

      2. Berikutnya dalam ukuran semi-permanen, berukuran antara keluarga tinggal. Biasanya satu ruangan hunian dapat menampung satu atau dua keluarga. Sering kali ada beberapa di daerah kecil, yang membentuk sebuah "Inuit desa".

      3. Ukuran terbesar dari iglo biasanya dibangun dalam dua kelompok. Salah satu bangunan adalah bangunan sementara yang dibangun untuk kesempatan khusus, yang lain di dekatnya dibangun untuk hidup. Bangunan ini mungkin memiliki hingga lima kamar dan dapat ditempati hingga 20 orang. Igloo berukuran besar bisa juga dibangun dari beberapa igloo lebih kecil yang dihubungkan dengan terowongan, Common memberikan akses ke luar. Igloo ini digunakan untuk mengadakan pesta masyarakat dan tarian tradisional.

      Bangunan Terkenal





      Nama bangunan : Burj Khalifa atau Burj Dubai
      Arsitektur : Skidmore, Owings, dan Merril



      Burj Khalifa (bahasa Arab untuk 'Menara Khalifa'), sebelumnya bernama Burj Dubai, adalah sebuah pencakar langit di Dubai, Uni Emirat Arab yang diresmikan pembukaannya pada 4 Januari 2010. Ketinggian pencakar langit ini adalah 828 meter (2.717 kaki).


      Burj Khalifa adalah bangunan tertinggi di dunia yang pernah dibuat oleh manusia. Dimulai dari melewati ketinggian Taipei 101 sebagai bangunan tertinggi di dunia pada 21 Juli 2007. Pada tanggal 12 September 2007, Burj Khalifa berhasil melewati ketinggian CN Tower sebagai struktur bebas (tanpa penyangga) tertinggi di dunia dan pada tanggal 7 April 2008 struktur tertinggi di dunia dari Menara KVLY-TV yang berada di Blanchard, North Dakota, Amerika Serikat berhasil dilewati. Struktur tertinggi yang pernah dibuat oleh manusia, Menara Radio Warsawa 645,4 m (2.120 kaki) dibuat pada 1974 (namun runtuh pada saat renovasi pada 1991) berhasil dilewati pada 1 September 2008. 


      Burj Dubai ini dilengkapi 57 lift tercepat di dunia yang mencapai 64 km per jam. Gedung ini akan memiliki 1.044 apartemen, 49 lantai ruang kantor, serta Hotel Giorgio Armani.

      Minggu, 04 Mei 2014

      Rangcangan Gedung Baru DPR RI, katanya plagiat (?)

      Rencana pembangunan gedung baru DPR RI mulai diwacanakan pada tahun Desember 2007 dan Juli 2008 Rancangan desain gedung DPRnya sendiri mulai dipublikasikan pada Februari 2009 dengan Rizal Syarifuddin sebagai Arsitek dan PT Yodya Karya sebagai konsultan perencananya. 

      Berdasarkan kebutuhan akan ruang yang memadai bagi aktfitas kerja anggota DPR RI. Anggota DPR RI Periode 2004 – 2009 kemudian dilanjutkan oleh Anggota Periode 2009 – 2014 mengusulkan agar dibangun gedung baru yang representatif sesuai dengan kebutuhan yang berkembang saat ini dan mendatang. Pembangunan gedung baru DPR ini telah disepakati dalam rapat koordinasi antara Tim Kerja BURT DPR RI dengan Tim Kerja PURT DPD RI. Lokasi pembangunan gedung baru terletak di selatan gedung nusantara 1 sesuai dengan blok plan yang telah disetuju.


      Rencana pembangunan Gedung baru DPR RI, tidak hanya menuai penolakan dari masyarakat karena total anggaran pembangunan yang sangat mahal, tapi juga karena rancangan gedungnya yang dinilai meniru bangunan gedung parlemen Chile.

      Dalam Undang-Undang Hak Kekayaan Intelektual, desain arsitektur masuk ke dalam perlindungan hak cipta di UU Hak Cipta No. 19 di tahun 2002. Jadi apabila terjadi pelanggaran hak cipta berupa peniruan, maka dapat di katategorikan melakukan tindak pidana.

      Namun menurut Ari Juliono Konsultan Hak Karya Intelektual, satu karya tidak dapat langsung dikatakan melanggar hak cipta. Ada dua hal yang harus diklarifikasi dan dibuktikan guna menyatakan satu karya desain arsitektur dianggap mencontek. Pembuktian seberapa jauh kesamaan ciri karyanya. Kalau ternyata pernah melihat dan jadi terinspirasi sehingga sama desainnya itu bisa dibilang menjiplak. Perlu dilihat kemungkinan asal desainer karya arsitektur tersebut. Bisa jadi ternyata perusahaan desainernya sama atau ada keterkaitan antara desainer.

      Data Proyek:
      Nama Proyek Gedung Baru DPR RI | Arsitek Rizal Syarifuddin dan Budi Asdar Sukada | Owner DPR RI Konsultan  | Masterplan PT. Virama Karya Konsultan | Perencana PT. Yodya Karya | Manajemen Konstruksi PT. Ciria Jasa Tinggi | Bangunan 27 lantai | Luas total bangunan ± 120.000 m2 | Lokasi Kompleks Gedung DPR MPR RI di selatan gedung nusantara 1 | Biaya Pembangunan 1,8 T | Ide desain : “Gedung Berlubang” , bentuk bingkai sebagai manifestasi dari bingkai keberagaman.

      UU Hak Cipta No. 19 tahun 2002, berlaku untuk semua ciptaan yang tidak hanya menjadi milik negara dan badan hukum. Pihak swasta ataupun negara, dapat mengajukan gugatan bila memang merasa karyanya dijiplak. Itu bisa sepanjang kedua negara sama-sama menjadi peserta perjanjian multilateral untuk hak cipta.
      Undang-undang yang berlaku di Indonesia, merupakan ratifikasi dari konvensi internasional terkait hak cipta pula. Indonesia dan Chile termasuk menjadi salah satu negara yang telah meratifikasi konvensi tersebut. Karena itu bila seseorang atau lembaga tertentu terbukti bersalah memperbanyak, meniru tanpa izin, maka dia dapat dikenakan pidana penjara maksimal 7 tahun dan denda maksimal Rp 5 miliar. Juga bisa tuntutan berupa kerugian materiil yang besarannya bebas tergantung tuntutan.

      Menurut A. Rizky A. Adiwilaga Konsultan HKI, Penilaian terjadinya peniruan atau tidak dalam sebuah karya arsitektur juga dapat dilakukan melalui, Penjelasan/presentasi proses desain oleh sang arsitek dan Penilaian kasat mata oleh masyarakat yang melihatnya.

      Pada rancangan gedung DPR RI sendiri, sang arsitek Rizal Syarifuddin mengatakan dalam milis IAI, “Awalnya, bentuk bingkai yang kami tawarkan (sebagai manifestasi dari bingkai keberagaman). Tetapi dalam proses rancangan gedung ini, intervensi owner/user/pemberi tugas cukup intens [Bila ada pendapat bahwa karya arsitektur sebenarnya karya bersama antara arsitek dan kliennya, mungkin kasus ini bisa menjadi contohnya, bahkandengan penekanan tertentu, dalam kasus ini kliennya terdiri dari banyak orang, fraksi, partai, dsb yang seringkali memberi masukan dan keinginan berbeda-beda. Hal ini pengalamanbaru bagi saya yang baru kali ini melayani klien dengan ratusan keinginan [sehingga bentuk bangunan yang pernah saya hasilkan juga beragam untuk mencoba menyatukan keinginanmereka]. 

      Salah satunya adalah keinginan sebagian mereka untuk membuatbangunan semacam petronas. Artinya menara kembar yang dihubungkan denganjembatan.(silahkan googling dengan keyword “gedung dpr, petronas”. Keinginan diantara mereka itu terekam dalam berita di beberapa media, kemudian). Pada saatnya saya (bila dikehendaki) akan memaparkan proses disain ini, bila itu berguna bagi kita semua. Saya sebut pada saatnya, karena bentuk yang mungkin telah rekan-rekan lihat belum tentu yang akan dibangun, karena proses ini belum selesai.”

      Sementara itu arsitek senior yang dimintai bantuan dalam proses perencanaan gedung ini Budi Sukada juga memberi penjelasan mengenai prosesnya, “Desain U terbalik itu melambangkan sebuah filosofi atas keberadaan DPR. Kami mengambil U terbalik dengan mengambil filosofi gerbang. Ini melambangkan DPR sebagai gerbang aspirasi rakyat menuju masa depan yang lebih baik. Desain gedung baru dirancang selama dua tahun sejak 2007. Proses selama itu dilakukan sejak inisiasi, survei lapangan, serta memperhitungkan kebutuhan dan kapasitas gedung baru. Jumlah tim yang mendukung desain itu mencapai puluhan orang dengan latar belakang pendidikan teknik arsitektur dan sipil.”

      Berikut ini gambaran konsep desain gedung baru DPR RI, dengan beberapa gedung lain yang memiliki bentuk yang hampir serupa.

      Gedung Baru DPR RI

      Konsep BINGKAI 
      merupakan filosofi dari anggota DPR yang berasal dari beragam latar belakang daerah dan budaya,
      Bentuk GERBANG 
      merupakan metafora dari HARAPAN, bahwa gedung ini bisa menjadi gerbang bagi kemakmuran bangsa Indonesia. Bentuk gerbang selalu mengandalkan adanya dua pilar kokoh yang menyanggah balok diatasnya.


      Dan inilah gedung Parlemen Chilee yang katanya ditiru itu.

      Gedung Parlemen Independen Archo Britan Chile

      Tapi sebenarnya, bukan hanya gedung parlemen chileee yang mengambil filosophi bentuk persegi yang bolong tengahnya. Tapi ada banyak bangunan lain di berbagai Negara yang mengambil filosophi yang sama. Yaitu bentuk Gerbang sebagai pintu masuk, untuk suatu makna tertentu.

      Grande Arche Paris
      The Gate Building DIFC Dubai
      Twin Tower Office Osaka
      Rufi Tower
      Gate of The Orient Suzhou

      Kesimpulan:
      setelah melihat dari filosophi bentuk, contoh2 bangunan yang ada, desain gedung DPR RI tidak meniru sama sekali. Karena shape seperti ini sudah mendunia, umum.

      tapi dari semua itu yang paling penting adalah titipan kesimpulan dari rakyat untuk para anggota dewan bukan? :) Penulis : Andini M ~ anrctect.blogspot.com