Minggu, 04 Mei 2014

Mengenal Roof Garden: Sejarah, Manfaat, dan Aplikasi

Pengembangan taman atap modern (roof garden atau atap hijau) adalah sebuah fenomena yang relatif baru. Roof garden teknologi pertama kali dikembangkan di Jerman pada tahun 1980-an yang kemudian menyebar ke negara-negara Eropa lainnya seperti Swiss, Belanda, Austria Inggris, Italia, Perancis, dan Swedia. Bahkan saat ini, diperkirakan 10% dari semua bangunan di Jerman memiliki taman atap. Selain Jerman, Austria (Linz kota) telah mengembangkan sebuah proyek taman atap sejak tahun 1983, serta Swiss mulai intensif mengembangkan taman atap sejak tahun 1990. 

Di Inggris, London dan Sheffield pemerintah kota bahkan telah membuat kebijakan khusus mengenai pengembangan taman atap. Pengembangan taman atap juga populer di Amerika Serikat meskipun tidak seintensif di Eropa. Di Amerika konsep taman atap pertama kali dikembangkan di Chicago, kemudian menjadi populer di Atlanta, Portland, Washington, dan New York (Wikipedia, 2008). Beberapa negara di Asia seperti Jepang, Korea, Hong Kong, Cina dan Singapura adalah aktivis dalam proyek taman atap.




Keberadaan taman atap, terutama di kota-kota besar (metropolitan) memiliki peran penting serta ruang hijau lainnya. Ancaman terhadap keberadaan ruang hijau akibat pembangunan infrastruktur kota dapat diimbangi atau dikompensasi dengan mengembangkan taman atap.Secara umum, manfaat dari taman atap (roof garden) adalah sebagai berikut (Rooftops Hijau, 2008, Holladay, 2006):

Mengurangi tingkat polusi udara, vegetasi pada taman atap dapat mengubah polutan (toksin) di udara menjadi senyawa berbahaya melalui reoksigenation, taman atap juga berperan dalam menstabilkan jumlah gas rumah kaca (karbon dioksida) di atmosfer kota sehingga untuk menekan efek rumah kaca,    Menurunkan suhu, kehadiran taman atap dapat mengurangi efek radiasi panas dari matahari dan dari dinding tanah (panas efek pulau), konservasi air, taman atap dapat menyimpan sebagian besar air berasal dari air hujan sehingga menyediakan mekanisme evaporasi-transpirasi yang lebih efisien, Mengurangi polusi suara / kebisingan, komposisi vegetasi pada taman atap memiliki potensi yang baik dalam mengurangi kebisingan yang berasal dari luar bangunan (kebisingan dari kendaraan bermotor atau kegiatan industri) Menampilkan keindahan aspek bangunan (estetika), serta fungsi dari taman pada umumnya, taman atap (atap hijau) memberikan aspek pembangunan keindahan yang terlihat lebih hidup, indah, dan nyaman, meningkatkan keanekaragaman hayati keragaman kota, taman atap dapat berfungsi sebagai penghubung bagi gerakan serta organisme habitat (satwa) antara ruang hijau di daerah perkotaan.

Berdasarkan jumlah biaya (maintenance) yang dibutuhkan, kedalaman tanah (media tanam), dan jenis tanaman yang digunakan, roof garden ini dibagi menjadi tiga macam, yaitu (The Site.org Lingkungan, 2006):

Roof garden ekstensif (Green Roof luas), jenis biaya roof garden pemeliharaan cukup rendah, media tanam (tanah) dangkal, dan tanaman yang digunakan adalah tanaman hias ringan.Roof garden memiliki skala yang bangunan ringan dan sempit yang banyak digunakan di rumah yang tidak terlalu luas seperti garasi, atap, teras, atau dinding. 

Roof garden ekstensif Semi (Semi-Extensive Green Roof), taman atap memiliki kedalaman media tanam (tanah) lebih dari sebuah taman atap yang luas, dapat menampung sejumlah besar tanaman dan lebih dekoratif. Taman atap membutuhkan struktur yang lebih kuat dan berat. 

Roof Garden Intensif (Intensive Green Roof), taman atap memiliki ukuran luas dari struktur yang besar dan kuat, mampu menampung berbagai jenis tanaman kecil dan besar (pohon).Taman atap jenis ini banyak digunakan pada bangunan besar (pencakar langit) dan dapat digunakan sebagai sarana rekreasi.

Taman atap juga memiliki banyak keuntungan banyak. Manfaat Manfaat atap taman meliputi: 
1. Keuntungan EKologi
  • Dapat menciptakan iklim mikro yang sejuk .
  • Mengundang hewan - hewan seperti burung dan unggas lainnya .
  • Melestarikan tanaman lain .
  • Mengurangi polusi udara.
2. Keuntungan Teknis
  • Sebagai penghambat laju air hujan .
  • sebagai pelindung atas atap, sehingga beton menjadi lebih tahan lama .
  • dapat mengurangi kebisingan perkotaan.
3. Keuntungan bagi pemilik bangunan
  • Atap bangunan lebih tahan lama sehingga biaya perawatan lebih hemat. 
  • Menambah ruang baru yang akan digunakan. 
  • dan tentu saja dapat meningkatkan daya jual bangunan tersebut.

Di daerah perkotaan sebagian besar ruang penuh dengan bangunan besar (pencakar langit), memiliki potensi besar untuk dikembangkan taman atap (roof garden). Aplikasi taman atap sekarang tersebar luas, tidak terbatas pada gedung-gedung pencakar langit, tetapi dapat dikembangkan dalam pembangunan rumah sekalipun. Aplikasi taman atap dapat dilakukan di daerah perkotaan (daerah perkotaan), yaitu di gedung perkantoran, mal, hotel, apartemen, atau flat, daerah atau kompleks perumahan (perumahan), di daerah industri seperti pabrik, dan di tempat-tempat lain seperti taman hiburan (rekreasi), museum, sekolah, universitas, rumah sakit, bandara, stasiun, perpustakaan, dan sebagainya (Rooftops Hijau, 2008).

Beberapa contoh bangunan yang dilengkapi dengan taman atap termasuk ACROS membangun (Crossroads Asia Selama Laut) di kota Fukuoka, Jepang, Namba Park di Osaka, Jepang, Balai Kota Chicago, Amerika Serikat, Ballard Perpustakaan di Seattle, Amerika Serikat; Mount Elizabeth Rumah Sakit, Singapura, Horniman Museum dan Canary Wharf di Londond, Inggris, museum L'Historial de la Vendée, Perancis, dan Golden Gate Park di San Francisco, USA. Via Graniterock

Tokoh Arsitektur Dunia: Cameron Sinclair



Cameron Sinclair adalah co-founder dan 'eternal optimist' untuk 'Architecture for Humanity', sebuah organisasi amal yang didirikan pada tahun 1999 untuk mengembangkan arsitektur dan desain solusi terhadap krisis kemanusiaan dan memberikan 'pro-bono' jasa desain kepada masyarakat yang membutuhkan. 

Organisasi mewakili lebih dari 5000 desain dan konstruksi profesional serta  memiliki proyek dalam dua puluh enam negara, mulai dari sekolah, klinik kesehatan, perumahan yang terjangkau dan rekonstruksi jangka panjang yang berkelanjutan. Inisiatif baru termasuk pembangunan kembali daerah2 pasca bencana Badai Katrina, mengembangkan sekolah di daerah pasca-konflik di Afrika Barat dan menciptakan koperasi tenun berkelanjutan secara ekonomi di Asia Selatan.

Pada tahun 2006 Sinclair dan Kate Stohr menyusun buku laris 'Design Like You Give A Sial: Architectural Responses to Humanitarian Crises (Tanggapan terhadap Krisis Kemanusiaan Arsitektur) . Ia sangat terlibat dalam membawa desain sosial yang relevan ke dalam akademisi dan melayani dewan penasehat dari Acumen Fund,State Effectiveness and the Ontario Collage of Art and Design.

Pada tahun 2004 Majalah Fortune bernama Cameron Sinclair disebut sebagai salah satu dari Aspen Seven, tujuh orang mengubah dunia menjadi lebih baik. Dia adalah penerima hadiah TED 2006 dan 2005 RISD / Target Emerging Designer of the Year. Baru-baru ini ia terpilih sebagai Pemimpin Global Muda oleh World Economic Forum. Sinclair dan Stohr dianugerahi 2008 National Design Award untuk pekerjaan mereka dalam mengangkat desain dan konstruksi standar di bidang kebutuhan. Bahkan beberapa tahun ia diprofilkan bersama Cameron Diaz dalam acara Iconoclasts di Sundance Channel dan dinobatkan sebagai salah satu CNNs' Principal Voices.

Sebagai hasil dari Hadiah TED ia dan Stohr meluncurkan Arsitektur Jaringan Terbuka, dunia 'pertama open source komunitas yang didedikasikan untuk meningkatkan kondisi kehidupan melalui desain inovatif dan berkelanjutan. Setiap dua tahun ini jaringan host tantangan global untuk mengatasi masalah sistemik dalam lingkungan binaan. Selama Forum Ekonomi Dunia 2009 mereka meluncurkan inisiatif terbesar untuk mengembangkan berkelanjutan, ruang kelas yang sehat dan terjangkau di Amerika Serikat dan luar negeri. lebih dari 10.000 anak-anak, guru dan profesional bangunan menanggapi panggilan tersebut.


KONSTRUKSI KUDA - KUDA

Konstruksi kuda-kuda adalah susunan rangka batang yang berfungsi mendukung beban atap termasuk juga beratnya sendiri, sekaligus dapat memberikan bentuk pada atap.

Kuda-kuda merupakan penyangga utama pada struktur atap. Struktur ini termasuk dalam klasifikasi struktur framework (truss), secara umumnya kuda - kuda terbuat dari kayu, bambu, baja, dan beton bertulang.

Kuda - kuda kayu digunakan sebagai pendukung atap dengan bentang maksimal sekitar 12 m. Kuda - kuda bambu pada umumnya mampu mendukung beban atap sampai dengan 10 meter

kuda - kuda baja sebagai pendukung atap, dengan sistem frame work atau lengkung dapat mendukung beban atap sampai dengan bentang 75 meter, seperti pada hanggar pesawat, stadion olah raga, bangunan pabrik, dll.

Kuda - kuda dari beton bertulang dapat digunakan pada atap dengan bentang sekitar 10 hingga 12 meter.
Pada kuda - kuda dari baja atau kayu diperlukan ikatan angin untuk memperkaku struktur kuda-kuda pada arah horisontal.

Pada dasarnya konstruksi kuda - kuda terdiri dari rangkaian batang yang selalu membentuk segitiga. Dengan mempertimbangkan berat atap serta bahan dan bentuk penutupnya, maka konstruksi kuda - kuda satu sama lain akan berbeda, tetapi setiap susunan rangka batang harus merupakan satu kesatuan bentuk yang kokoh yang nantinyamampu memikul beban yang bekerja tanpa mengalami perubahan.

Kuda-kuda diletakkan diatas dua struktur beton/baja selaku tumpuannya. Perlu diperhatikan bahwa tembok diusahakan tidak menerima gaya horisontal maupun momen, karena tembok hanya mampu menerima beban vertikal saja ( dalam perhitungan struktur tembok tidak diperhitungkan sebagai penerima beban tapi hanya sebagai beban )

Beban-beban yang dihitung adalah :
1.     Beban mati ( yaitu berat penutup atap, reng, usuk, gording, kuda - kuda, plafon termasuk instalasi listrik, air bersih/air kotor dan instalasi lain yang berada diatas plafon dengan posisi menggantung )

2.     Beban hidup ( angin, air hujan, orang pada saat memasang/memperbaiki atap ).
Kuda - kuda berdasarkan bentang kuda-kuda dan jenis bahannya :
Bentang 3-4 Meter
Digunakan pada bangunan rumah bentang sekitar 3 s.d. 4 meter, bahannya dari kayu, atau beton bertulang.

Bentang 4-8 Mater
Untuk bentang sekitar 4 s.d. 8 meter, bahan dari kayu atau beton bertulang.

Bentang 9-16 Meter
Untuk bentang 9 s.d. 16 meter, bahan dari baja (double angle).

Bentang 20 Meter
Bentang maksimal sekitar 20 m, Bahan dari baja (double angle) dan Kuda-kuda atap sebagai loteng, Bahan dari kayu

Kuda-Kuda Baja Profil Siku

Kuda-Kuda Gabel Profil WF


KONSTRUKSI TANGGA


Konstruksi tangga pada perencanaan bangunan bertingkat seperti pada rumah atau bangunan-bangunan publik perlu dirancang sebagus dan senyaman mungkin. Fungsi dari tangga sebagai penghubung antara lantai tingkat satu dengan lantai tingkat lainnya pada suatu bangunan. Dalam perencanaan tanggapun perlu kita perhatikan sudut tangga supaya nyaman, efesien dan mudah dijalani, termasuk dari kemiringan tangganya itupun sendiri. Kemiringan tangga yang ideal ± 40, karena pada waktu menjalaninya tidak terasa lelah pada waktu arah naik, serta tidak berbahaya pada waktu arah turun dari tangga. Beberapa hal yang harus diterapkan dalam merencanakan konstruksi tangga secara umum yaitu :

1.     Direncanakan dan dipasang berdasarkan zoning yang mudah dijangkau oleh setiap orang
2.     Pada daerah tangga harus mendapat penerangan yang cukup terutama pada siang hari
3.     Tangga mudah dijalani atau digunakan
4.     Kuat, nyaman, sederhana dan layak untuk dipakai.
5.   Pada saat digunakan tangga tersebut terasa nyaman, menyenangkan dijalani, maka   ukuran Optrade (tegak) dan Aantrede (mendatar) harus sebanding.


Untuk merencanakan tangga maka bisa digunakan rumus tangga sebagai berikut :
1 Aantrade + 2 Optrade = 57 ampai dengan 60 cm
Toleransi 57 – 60 cm ini menyesuaikan dengan panjang langkah orang dewasa dengan tinggi badan normal itu rata-rata 57 – 60 cm.
Menurut riset bahwa pada saat mengangkat kaki dalam arah vertikal untuk tinggi angkatan kaki tersebut itu dibutuhkan tenaga 2 kali lipat dibandingkan kaki pada saat melangkah dalam arah horisontal. Sebagai idealisasi kita abil contoh sebagai berikut :
Sebuah bangunan bertingkat dengan tinggi lantai 3.50 m, anak tangga tegak (optrade) diperkirakan 18 cm. Jadi jumlah optrade = 350 : 18 = 18, 4 buah maka dibulatkan = 19 buah
sehingga optradenya menjadi = 350 : 19 = 18.4 cm. Ukuran ini harus diteliti benar sampai ukuran dalam milimeter. Kita lihat berdasarkan rumus tangga :
1 aantrade + 2 optrade = 57 – 60 cm
Lebar aantrade (57 a’ 60 ) – 2 x 18.4 = 20. 2 a’ 23.2 cm dalam ini ukurannya boleh dibulatkan menjadi antara 20 dan 23 cm. Maka untuk ukuran ideal dalam perencanaan konstruksi sebuah tangga yang memungkinkan sebagai berikut :
·      Untuk dilalui 1 orang lebar digunakan ukuran ± 80 cm
·      Untuk dilalui 2 orang lebar digunakan ukuran ± 120 cm

·      Untuk dilalui 3 orang lebar digunakan ukuran ± 160 cm

SIRKULASI


Kinetika dari gerakan merupakan suatu studi tentang sifat gerakan. Studi tentang pergerakan ini diuraikan oleh J.O. Simond, Landscape Architecture dan beberapa buku rujukan, antara lain Laurie, An Introduction to Landscape Architecture; Eckbo, Urban Landscape Design dan Ruben¬stein, Guide to Site and Environmental Planning.
Pada uraian di bawah ini akan disarikan pendapat tentang pergerakan kinetika.
1. Berbagai Bentuk Lintasan
Macam-macam bentuk lintasan, antara lain:
• bentuk bergelung-gelung
• bentuk menyimpang
• bentuk melingkar
• bentuk berliku
• bentuk hiperbolis
• bentuk centrifugal
• bentuk centripetal
• bentuk berbelok ke kiri ke kanan
• bentuk melayang ke atas
• bentuk mendaki
• bentuk descending
• bentuk busur
• bentuk langsung

BENTUK LINTASAN DALAM GRAFIK
Kecepatan dari pergerakan itu dapat bervariasi mulai dari gerak lambat (merayap, merangkak) hingga gerak cepat (kilat).
Sifat gerak yang dapat ditampilkan antara lain:
• sifat menenangkan (soothing)
• sifat mencengangkan (startling)
• sifat mengagetkan (shocking)
• sifat mematahkan (baffling)
• sifat logis (logical)
• sifat bertahap-tahap (sequential)
• sifat maju (progressive)
• sifat bertingkat-tingkat (hieratic)
• sifat lurus (tinier)
• sifat bergelombang (wayelike)
• sifat mengalir (flowing)
• sifat bercabang (branching)
• sifat menyebar (diverging)
• sifat mengumpul (converging)
• sifat malu-malu, ragu-ragu (timorous)
• sifat kuat (forceful)
• sifat meluas (expanding)
• sifat berkerut (contracting)

Perpaduan antara kecepatan gerak dan sifat pergerakan terhadap suatu subjek akan menghasilkan suatu rasa emosional tertentu, sehingga dalam mendesain suatu lintasan gerak, harus dikontrol dengan hati-hati.

2. Manusia dan Pergerakan
a. Faktor-faktor yang merangsang manusia untuk cenderung bergerak, antara lain:
• bila ada sesuatu yang menyenangkan
• bila ada bends-bends yang diinginkan
• sedikit mempunyai halangan
• adanya tanda atau petunjuk yang jelas dan mengarah
• bila ada sesuatu yang sesuai atau cocok
• bila sesuatu mempunyai kegunaan
• bila sesuatu mempunyai days tarik
• untuk menuju jalan masuk
• bila ada sesuatu yang berbeda
• untuk mencapai suatu tujuan
• bila ada sesuatu yang menakjubkan dan rasa ingin tahu
• bila menerima sesuatu
• menuju suatu titik yang mempunyai warna dan tekstur terkuat
• bila ada ruang-ruang yang menyenangkan
• bila ada rasa petualangan
• bila ada sesuatu yang indah, permai
• menuju objek atau daerah dan ruang yang cocok dengan hati atau kebutuhannya.

b. Faktor-faktor yang merangsang manusia untuk menolak bergerak, antara lain:
• ada rintangan
• ada sesuatu yang tidak menyenangkan
• ada sesuatu di luar perhatian
• ada sesuatu gesekan ada suatu penolakan
• ada sesuatu kekerasan
• ada permukaan yang curam
• ada sesuatu yang monoton
• kebosanan
• sesuatu yang'tidak diinginkan
• sesuatu yang melarang
• ada bahaya
• ada sesuatu yang tak serasi

c. Faktor yang membimbing manusia dalam pengarahan gerakan adalah
• gubahan dari bentuk-bentuk alarn.
• adanya pembagi ruang-ruang
• adanya tanda-tanda atau simbol-simbol
• adanya dinding pengarah atau penahan
• adanya pola sirkulasi
• tersedianya lajur-lajur
• bentuk-bentuk ruang

d. Faktor yang merangsang manusia untuk beristirahat:
• kondisi kenikmatan, kesenangan
• kesempatan untuk menangkap view, objek atau detail yang jelas
• halangan untuk bergerak
• terlibat dalam keadaan tanpa tujuan
• kesempatan untuk sesuatu yang bersifat pribadi
• kesempatan untuk konsentrasi
• ketidakmampuan untuk maju
• adanya gubahan yang menyenangkan untuk bentuk dan ruang

3. Jenis Pergerakan dan Pengaruhnya Bagi Manusia
a. Pergerakan Horizontal
Pengaruh pergerakan horizontal pada manusia dikarenakan adanya:
• pergerakan lebih mudah, lebih bebas, dan lebih efisien pada bidang horizontal
• perubahan arah lebih mudah
• pergerakan lebih aman
• pemilihan alternatif arah lebih banyak
• pergerakan lebih mudah dikontrol
• pergerakan lebih stabil karena keseimbangan gaga tarik bumf
• pandangan terhadap objek yang bergerak lebih mudah dikontrol
• mudah melihat objek-objek yang vertikal

b. Pergerakan Menurun atau ke Bawah
Pengaruh pergerakan ke bawah pada manusia karena adanya:
• usaha atau tenaga yang dikerahkan berkurang, namun sudut
• kemiringan harus dipertimbangkan
• adanya perasaan untuk bersembunyi, perlindungan, atau privacy perlindungan bawah tanah
• seakan-akan kembali ke alam primitif
• adanya konsep penyimpanan bawah tanah

c. Pergerakan Mendaki atau ke Atas
Pengaruh pergerakan ke atas pada manusia adalah
• bersifat menggembirakan
• membutuhkan tenaga tambahan
• merasa berpisahan dengan benda-benda di tanah
• mengambang dekat dengan matahari
• menambah rasa memiliki bidang lantai
• mendekatkan diri pada Yang Mahakuasa
• usaha mencapai menara
• konsep manusia menantang langit
• berkesan kuat
• menakjubkan
• dramatis

4. Pengaruh Jarak Pada Sirkulasi
Jarak dapat mengganggu pola sirkulasi yang diterapkan. Jarak yang terlalu jauh menyebabkan pola sirkulasi yang direncanakan tidak sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Perancang mempunyai tugas untuk memperkecil halangan tersebut, apalagi bila sirkulasi tersebut dikaitkan dengan faktor kecepatan dan pertimbangan ekonomi. Hal ini dapat diatas dengan penerapan pola sirkulasi yang bersifat langsung dan praktis.

Skala Dalam Arsitektur

Capture

Skala dalam arsitektur menunjukkan perbandingan antara elemen bangunan atau ruang dengan suatu elemen tertentu yang ukurannya sesuai dengan manusia.
Patung Pangeran Diponegoro di Taman Monumen Nasional bila dilihat dari jarak tertentu sulit untuk diperkirakan berapa tinggi patung tersebut Namun bila di samping patung tersebut berdiri seseorang, barulah kita dapat memperkirakan ketinggiannya dengan pemikiran bahwa tinggi orang tersebut 1,60 meter. Jadi, jelas bahwa skala akan bermanfaat bila adil ukuran manusia sebagai perbandingannya.
Ada tiga macam skala, yaitu sebagai berikut.
1.    Skala Manusia
Pada skala ini penekanan diarahkan pada penggunaan ukuran dimensi manusia atau gerak ruang manusia terhadap objek atau bendy yang dirancang.
2.   Skala dalam arsitektur adalah suatu kemampuan manusia secara kualitas untuk membandingkan bangunan atau ruang.
Pada ruang-ruang yang masih terjangkau oleh manusia skala ini dapat langsung dikaitkan dengan ukuran manusia. Pada ruang yang melebihi jangkauan manusia penentuan skala harus didasarkan pada pengamatan visual dengan membandingkannya dengan ketinggian manusia sebagai tolok ukurnya.
3.    Skala Ruang dalam Lingkungan Kota
Dalam skala ini lebih banyak digunakan skala manusia dan skala generik. Ada beberapa macam skala ruang dalam suatu lingkungan perkotaan, yakni sebagai berikut.
1)    Skala ruang intim
Merupakan skala ruang yang kecil sehingga memberikan rasa perlindungan bagi manusia yang berada di dalamnya. Pengertian kecil bukan berarti dikecilkan hingga menjadi kerdil.
Sebagai contoh, sebuah taman pada bangunan rumah tinggal cende¬rung untuk membentuk ruang intim. Pada ruang intim ini hampir seluruh detail elemen perkerasan atau tanaman akan terlihat jelas. Bentuk, tekstur, warna, dan aroma perlu menjadi pertimbangan perancangan dalam menerapkan skala ruang kecil. Biasanya untuk skala ruang ke¬cil keintiman akan timbul karena gerak manusia sangat terbatas.
2)   Skala ruang monumental
Merupakan skala ruang yang besar dengan suatu objek yang mempunyai nilai tertentu sehingga manusia akan merasakan keagungan dari ruang tersebut. Manusia akan terangkat perasaan spiritualnya dan terkesan pada keagungan yang dirasakannya. Tugu Monumen Nasional merupakan suatu contoh yang jelas pada penggunaan skala monumental.
3)    Skala ruang kota
Merupakan skala ruang yang dikaitkan dengan kota serta ling) ungan manusianya, sehingga manusia merasa memiliki atau kerasan pada lingkungan tersebut.
Plasa kota merupakan suatu contoh yang jelas. Ukuran lugs plasa sebaiknya minimum sama dengan bangunan utama dari plasa tersebut, sedangkan maksimum sebaiknya dua kali bangunan utama. Plasa yang besar dan dikelilingi oleh bangunan kecil menjadi tidak sesuai skalanya, demikian pula halnya bila sebuah objek menara tinggi di antara rumah- rumah kecil.
4)    Skala ruang menakutkan
Pada skala ini objek bangunan mempunyai ketinggian yang berada jauh di atas skala ukuran manusia. Hal ini akan terasa bila kita berjalan di antara bangunan tinggi dengan jarak antarbangunan yang berdekatan.
Sudut pandang manusia secara normal pada bidang vertikal adalah 60°, namun bila melihat secara lurus ke depan atau menuju ke titik objek secara intensif maka sudut pandangannya menjadi 1°.
Mirten dalam tulisannya, Skala in Civic Design, menyatakan bahwa bila orang melihat lurus ke depan maka bidang pandangan vertikal di atas bidang pandangan horizontal mempunyai sudut 40°.
Orang dapat melihat keseluruhan bila sudut pandangannya 27°, atau dalam perbandingan jarak bangunan (distance) dibagi dengan tinggi bangunan (house) sama dengan 2.

Menurut Yoshinobu Ashiara dalam buku Open Spaces menuliskan tentang perbandingan antara jarak antarbangunan (D) dan tinggi bangunan (H) sebagai berikut.
D/H=1 , ruang terasa seimbang dalam perbandingan jarak dan tinggi bangunannya.
D/H<1 , ruang yang terbentuk akan terlalu sempit dan memberikan rasa tertekan.
D/H>1 , ruang terasa agak besar.
D/H>/2 , pengaruh ruang tidak akan terasa.

Sedangkan menurut Paul D. Spriegen, perbandingan antara tempat seseorang berdiri (D) dengan objek tinggi bangunannya (H), bila;
D/H=1 , cenderung memperhatikan detail daripada keseluruhan bangunan.
D/H=2 , cenderung untuk melihat bangunan sebagai sebuah komponen
keseluruhan bersama dengan detailnya.
D/H=3 , bangunan terlihat dalam hubungan dengan lingkungannya.
D/H=2 , bangunan dilihat sebagai pembatas ke depan saja.

Skala dalam hubungannya dengan Gambar dan Peta
Skala dalam gambar dan peta dinyakan dalam :
1.   Skala angka atau skala pecahan (numeric scale/fraction scale)
Perbandingan jarak pada peta dengan jarak yang sebenarnya dinyatakan dalam bentuk angka/pecahan yang sederhana.
Contoh :
Skala 1 : 100, artinya 1 cm di peta/gambar = 100 cm keadaan yang sebenarnya di lapangan.
Skala 1 : 50.000, artinya. 1 cm di peta/gambar = 50.000 cm di lapangan.
2. Skala verbal (skala 1 inc : 1 mil atau skala 1 cm : 1 km)
Jenis skala ini sering dipergunakan terutarna pada peta topografi di Amerika atau negara-negara lain yang menggunakan satuan bukan metrik.
Contoh:
Skala 1 inci : 4 mil, 1 inci di peta. 4 mil di lapangan.
Skala 1 cm : 5 krn, 1 cm di peta 5 km di lapangan.
3. Skala grafik (grafic scale atau bar scale)
Skala ini ditunjukkan oleh garis lurus yang dibagi dalam bagian-bagian yang sama di mana tiap bagian menunjukkan kesatuan-kesatuan yang sama.

Untuk memperbesar atau memperkecil skala peta ada beberapa cara. Salah satunya adalah dengan Square Method. Yaitu dengan membuat garis bantu berupa petak-petak atau garis grid pada, kertas gambar yang baru. Petak garis bantu tersebut disesuaikan dengan perbesaran atau perkecilan peta yang diinginkan.

MATERIAL LANSEKAP


Arsitektur Lansekap pada dasarnya berkaitan erat dengan pembentukan ruang luar atau ruang terbuka. Pembentukan ruang tersebut sangat tergantung dari komponen pembentuk ruang. Sedangkan komponen pembentukan ruang terdiri dari bidang alas, bidang dinding, dan bidang atap. Kualitas nilai ruang tergantung dari fungsi ruang yang diinginkan. Gubahan ruang terhadap fungsi ruang yang ingin dihasilkan dapat tergubah melalui bidang-bidang sebagai komponen pembentuk ruang. Bidang yang dimaksud terbentuk karena adanya unsur material yang direkayasa sesuai bentuk, tekstur, warna, dan ukuran dimensi yang diciptakan. Untuk hal itulah maka pengetahuan dan penguasaan serta pemahaman terhadap material/ bahan lansekap menjadi penting.
Di samping pemahaman terhadap karakteristik bentuk bahan, juga perlu diketahui fungsi, spesifikasi, paska pemeliharaan dari bahan, serta nilai ekonomis.
Dalam Arsitektur Lansekap dikenal 2 (dua) bagian besar material lansekap, yakni material lunak (soft materials) dan material keras (hard materials).

1.      Material Lunak (Soft Materials)
Kelebihan dari Arsitektur Lansekap dalam menggubah ruang, adalah dapat "menggubah ruang" dengan komponen material lunak, yaitu tanaman/pepohonan dan air.
Tanaman merupakan material lansekap yang hidup dan terus berkembang. Pertumbuhan tanaman akan mempengaruhi ukuran besar tanaman, bentuk tanaman, tekstur, dan warna selama masa pertumbuhannya. Dengan demikian, kualitas dan kuantitas ruang terbuka akan terus berkembang dan berubah sesuai dengan pertumbuhan tanaman. Jadi dalam perancangan lansekap, tanaman sangat erat hubungannya dengan waktu dan perubahan karakteristik tanaman.
Secara dasar khususnya di iklim tropic, dikenal 2 (dug) macam tanaman ditinjau dari massa daunnya, yakni
       • Tanaman yang menggugurkan daun (Decidous plants)
       • Tanaman yang hijau sepanjang tahun (Evergreen conifers)

Tanaman yang menggugurkan daun (Decidous plants) yang dimaksud adalah jenis-jenis tanaman yang berubah bentuk ataupun warna daunnya sesuai dengan musimnya. Setelah musim pangs daun berguguran, sedangkan menjelang musim hujan daun tumbuh lebat, atau sebaliknya. Contohnya antara lain Flamboyan (Delonix regia), Angsana (Pterocarpus indicus), atau jenis Gymnospermae.
Tanaman yang berdaun sepanjang tahun (Evergreen conifers) dimaksudkan adalah jenis tanaman yang berdaun lebat dan berbunga sepanjang musim, tidak menggugurkan daun. Contohnya antara lain jenis Cemara.
Pemahaman dan penguasaan dari material tanaman yang dimaksud terutama terhadap karakteristik dan habitat tanaman.
·         Karakteristik tanaman terdiri dari:
1. bentuk (tajuk, batang, cabang, ranting, dan daun),
2. tekstur (batang dan daun),
3. warna (batang, daun, dan bunga,
4. fungsi tanaman, dan
5. tinggi dan lebar tanaman.

·         Habitus tanaman terdiri dari:
1. pola pertumbuhannya,
2. sistem perakarannya,
3. tempat tumbuhnya, dan
4. pola pemeliharaannya.

·         Bentuk Tajuk Tanaman
Bentuk tajuk tanaman terdiri dari :

·         Fungsi Tanaman
Fungsi tanaman secara ekologis adalah
1.      Menyerap CO2 dan menghasilkan 02 (oksigen) bagi makhluk hidup di siang     hari.
2.      Memperbaiki iklim setempat.
3.      Mencegah terjadinya erosi/ pengikisan muka tanah (run off).
4.      Menyerap air hujan.


2.      Material Keras (Hard Materials)
       Telah diuraikan bahwa hal-hal yang perlu dipahami dalam pengetahuan bahan adalah
        1. karakteristik bentuk bahan,
        2. fungsi,
        3. spesifikasi,
        4. pasca pemeliharaan dari bahan, serta
        5. nilai ekonomisnya.

Material keras dapat dibagi dalam 5 (lima) kelompok besar yaitu :
1.      material keras alami (organic materials);
2.      material keras alami dari potensi geologi (inorganic materials used in their natural state);
3.      material keras buatan bahan metal (inorganic materials used in highly modified state);
4.      material keras buatan sintetis/tiruan (synthetic materials);
5.      material keras buatan kombinasi (composite material).

a.      Material Keras Alami (Organic Materials)
Material ini berasal dari bahan alami, yaitu kayu. Bermacam-macam jenis kayu yang dapat dijadikan bahan material bagi desain lansekap. Kayu dapat dipergunakan sebagai bahan untuk pembentukan furniture lansekap, retaining wall, ataupun perkerasan. Kekuatan kayu berbeda  - beda tergantung dari keaweta,inya. Keawetan kayu tergantung dari penempatannya. Kayu yang terlindung dari hujan dan sinar matahari tidak akan lekas rusak. Untuk mempertinggi sifat keawetan kayu, dapat diusahakan dengan mengecat/mengu rang i kadar air, diberi obat pengawet. Untuk penggunaan konstruksi, di Indonesia kayu terbagi dalam 5 (lima) kelas kekuatan (baca Frick Heinz. Ir, Ilmu Konstruksi Bangunan Kayu, 1982).
1.  Kayu kelas 1 (satu), antara lain Kayu hitam (Diospyros celebica Bakh), Kayu ulin (Eusideroxylon zwageri,T), dan Sawo kecik (Ma nilka ra kauki Dub).
2.     Kayu kelas 2 (dua), antara lain Jati (Tectona grandis L.1) dan Puspa (Tetramerista glabra Mig).
3.   Kayu kelas 3 (tiga), antara lain Damar (Agathis borneensis Warb) dan Meranti merah (Shorea spec,Div).
4.  Kayu kelas 4 (empat), antara lain Kemiri (Aleuritis moluccana Willd) dan Angsana (Pterocarpus indicus,Div).
5.      Kayu kelas 5 (lima), antara lain Jeunjing (Albizia falcata, Backer).

b.      Material Keras Alami dari Potensi Geologi (Inorganic Materials Used in Their Natural State)
Material yang dimaksud antara lain batu-batuan, pasir, dan batu bata. Material batu-batuan dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan suatu susunan dinding ataupun pola lantai. Batu-batuan dapat menghasilkan kesan tekstur kasar atau halus. Batu besar (batu kali) dapat juga dijadikan sebagai ornamen artistik dalam suatu taman.
c.       Material Keras Buatan Bahan Metal
Yang dimaksud, antara lain alumanium, besi, perunggu, tembaga, dan baja.
d.      Material Keras Buatan Sintetis/Tiruan (Synthetic Materials)
Contoh dari material sintertis atau tiruan, antara lain bahan plastik/fiberglass.
e.      Material Keras Buatan Kombinasi (Composite Materials)
Beton dan plywood merupakan contoh dari bahan materials keras buatan kombinasi.

                                                                          sumber : http://kuliahnyaarsitek.blogspot.com/